EQUITYWORLD FUTURES – Spiegel Bar & Bistro, petang hari. Cahaya oranye kemerahan menelusup celah-celah bangunan di kawasan yang dikenal sebagai kawasan Kota Lama di Semarang, Jawa Tengah. Diiringi lantunan instrumen gitar Spanyol, sepasang remaja menikmati koktail.

“Serasa di Eropa. Klasik dan romantis,” ucap Sisca (21), mahasiswi semester akhir sebuah universitas swasta di Semarang, Jawa Tengah, pertengahan Juni. Hendrik (22), pasangannya, menimpali, “Bangunannya adem. Pemandangannya keren.”

Suasana kafe yang oleh sementara anak muda disebut cozy ini tak terbayang hadir di antara bangunan tua Kota Lama. Selama bertahun-tahun, distrik kuno di jantung Kota Semarang ini identik dengan kekumuhan, kegelapan, kriminalitas, pelacuran. Sebersit perubahan ini ditiupkan jiwa-jiwa bernyali, yang berani berinvestasi.

Di antara mereka sebutlah Shita Devi Kusumastuti (27), Handoko (saat tulisan ini ditulis telah almarhum), dan Chris Darmawan (52). Mereka ini sebagian dari sosok-sosok yang berani mengucurkan modal tak sedikit di Kota Lama. Selain tentunya sedikit “kegilaan”, mengingat saat membuka usaha, kawasan itu masih gelap dan seram. Tidak seperti saat ini, bertabur kerlip lampu dan semarak hiburan.

Shita dan keluarga, misalnya, membeli sebuah bekas gudang, bangunan tahun 1895, yang kini dirombak menjadi Spiegel Bar & Bistro. Bangunan ini terletak di Jalan Letjen Suprapto, yang dulunya bernama Heeren Straat atau Jalan Toean-Toean Besar. Bangunan yang dibelinya berupa gedung dua lantai.

Semula, Shita bingung apa yang harus diperbuat dengan bangunan ini. Sekelilingnya kumuh dan banyak pedagang liar. Selain itu, para pekerja seks dan pemulung bergerobak berkeliaran di malam hari.

Setelah banyak berdiskusi, Shita yang juga arsitek memutuskan mendirikan restoran bernuansa Eropa kontemporer. Pada 2014, bangunan yang dibeli ratusan juta rupiah itu direnovasi dengan biaya mencapai Rp 3 miliar. Shita memberikan sentuhan Barat untuk restorannya.

EQUITYWORLD FUTURES : Cermin masa lalu

Bar atau tempat pelayanan minuman berada di tengah ruang berupa island. Bar dikelilingi kursi-kursi tinggi. Lampu dibuat berwarna kuning lembut menambah hangat atmosfer restoran.

Langit-langitnya yang tinggi memberikan suasana khas, yang sulit didapat di kafe-kafe modern. Mezzanine atau lantai perantara di sekeliling ruang memberikan suasana akrab. Tepat sekali jika Spiegel, nama si empunya gedung ini dulu, tetap dipertahankan menjadi nama kafe. Dalam bahasa Jerman, Spiegel berarti cermin. Spiegel Bar & Bistro menjadi cermin masa lalu dalam modernitas dunia hiburan kontemporer.

Dua tahun sebelum Shita, seorang pengusaha yang bergerak di dunia seni, Handoko (almarhum), merintis usaha serupa dengan kafe bernama Noeri’s Cafe. Menurut arsitek yang disewa Handoko waktu itu, Wawan Nugros, Handoko membeli bangunan bekas gudang yang kondisinya kumuh dan suram di Jalan Nuri ini seharga Rp 300 juta.

Bukan itu saja, kesulitan Wawan bertambah karena mesti ekstra hati-hati dalam memugar bangunan bersejarah. Banyak aturan yang membuat biaya pemugaran mahal. Ia harus berkonsultasi dengan ahli cagar budaya. Pemugaran juga tidak boleh mengubah bentuk bangunan, termasuk memaku dinding.

Wawan pun mengakali dengan memanfaatkan kayu-kayu gelondongan tua untuk merestorasi bangunan. Biaya renovasi kala itu ditaksir mencapai Rp 1 miliar.

Sejak itu, Noeri’s Cafe menjadi titik temu berbagai komunitas di Semarang, di antaranya Komunitas Sejarah Lopen, Komunitas Orat-Oret Sketsa, pegiat fotografi, dan peminat sejarah. Tempat ini menjadi ajang diskusi dan urun gagasan dari mereka yang peduli pada Kota Lama.

Gejala kehidupan modern sebenarnya mulai masuk Kota Lama sejak 2008 saat Chris Darmawan, pengusaha seni, membuka Semarang Gallery di Jalan Taman Srigunting. Ia membeli gedung yang dulunya kantor asuransi De Indische Lloyd itu seharga Rp 900 juta. Biaya restorasi mencapai Rp 2 miliar.

“Mungkin ada yang menyebut saya gila karena memindahkan galeri ke tempat yang saat itu sepi. Tetapi, saya yakin karya seni yang hebat harus dipamerkan di tempat yang hebat. Di sini, galeri saya akan menjadi salah satu penanda peradaban di Semarang,” ucap Chris sedikit berfilosofi.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAWisatawan mengunjungi Taman Srigunting yang berada di kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (13/7/2016).

Penataan kota

Berkat kiprah orang-orang berani ini, dua tahun belakangan, kawasan Kota Lama yang dibangun sekitar abad ke-17 itu mulai kelihatan hidup. Menikmati malam di sana tak lagi segelap dulu. Tempat-tempat hiburan lain juga mulai bermunculan.

Sebuah bangunan di Jalan Letjen Suprapto difungsikan sebagai museum tiga dimensi. Selain itu, bekas gedung tua milik raja gula Oie Tiong Ham, di ruas Hogendorp Straat (Jalan Kepodang tengah), dipugar menjadi museum dan ruang pelatihan batik.

Tentu saja, tidak semua seberani mereka. Banyak ahli waris bangunan abai, enggan mengurusi. Seperti halnya Leo, ahli waris salah satu bangunan kuno yang sebagian sudah roboh di ruas Oosterwalstraat (Jalan Cendrawasih). Saat bertemu dengan sejumlah pengurus Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), ia berniat menggugurkan status cagar budaya.

Walau begitu, Ketua BPK2L Hevearita G Rahayu optimistis, dengan pendekatan intensif, satu per satu pemilik bangunan bakal membuka diri. Pemkot juga terbuka untuk bekerja sama mengelola bangunan-bangunan tadi.

Hevearita yang juga Wakil Wali Kota Semarang melihat, Kota Lama magnet wisata Ibu Kota Provinsi Jateng. Pemerintah terus memfasilitasi penataan wilayah seluas 31 hektar ini, terutama agar banyaknya bangunan yang mangkrak bisa difungsikan lagi. Beberapa taman kota di dalamnya dipercantik supaya menjadi ruang publik yang nyaman.

Di Kota Lama, jumlah bangunan kuno sekitar 105 buah. Beberapa di antaranya sudah roboh. Kini, sekitar 40 bangunan telah terkelola, untuk perkantoran, pabrik, restoran, dan galeri seni. Mungkin masih butuh waktu membereskan seluruh kawasan Kota Lama. Problem sosial di sana tidak sederhana. Di Kota Lama masih ada terminal angkutan kota yang diam-diam menjadi tempat beroperasi para pekerja seks, lorong-lorong untuk judi termasuk judi sabung ayam.

Dalam buku Semarang Tempo Dulu, Teori Desain Kawasan Bersejarah (2007), Wijanarka menulis, kawasan berjuluk “Little Netherland” ini didesain menjadi kota modern, pusat ekonomi, sekaligus tempat bermukim yang nyaman. Mengembalikan ruh Kota Lama dalam konteks kekinian seyogianya tak bergeser dari semangat awal desain kreasinya. – Equity world Futures