EQUITYWORLD FUTURES – Industri gula adalah salah satu industri sektor perkebunan tertua di negeri ini. Konon, Indonesia pernah mengalami era kejayaan industri gula, jauh sebelum negeri ini merdeka. Tapi itu cerita dulu, sekarang kondisinya sudah jauh berbeda.

Saat ini Indonesia tidak bisa lepas dari impor gula. Tingkat ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap gula dari negara lain cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, gula impor melenggang mulus masuk pasar Indonesia.

Siap tidak siap, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN atau biasa disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN awal 2015. Direktur Eksekutif AGI (Asosiasi Gula Indonesia), Tito Pranoloh menyebut kondisi ini merupakan ancaman untuk petani Indonesia.

Komoditas beras dan gula impor bakal mengalir deras ke dalam negeri. Komoditas tersebut akan masuk dengan bebas ke Indonesia yang secara tidak langsung mengancam petani lokal.

“Tak ada lagi hambatan masuk ke Indonesia seperti gula dan beras. Beras itu utama dari Vietnam dan Thailand. Sedangkan produksi gula banyak itu Thailand dan mereka lebih diuntungkan,” ucap Tito dalam konferensi pers, di Jakarta.

Dia memprediksi, petani Indonesia bakal kalah bersaing karena teknologi yang diterapkan di dalam negeri masih bersifat tradisional.

Hal ini terwujud. Faktanya, pada awal tahun ini, pemerintah sudah mengambil ancang-ancang untuk membanjiri pasar gula Indonesia dengan produk impor.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi mengatakan kebutuhan impor tahun ini kemungkinan melebihi impor tahun lalu. Alokasi impor gula mentah (raw sugar) selama 2013 mencapai 2,26 juta ton.

“Kurang lebih tahun lalu ditambah 6,5 persen. Itu plus pertumbuhan di industri makanan dan minuman,” tuturnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Sebenarnya apa saja fakta sebab dan akibat dari ketergantungan Indonesia pada gula impor ini? Berikut merdeka.com mencoba merangkumnya.

1. Impor gula besar karena tak ada pembangunan pabrik baru

Program swasembada pangan sejatinya sudah dicanangkan sejak satu dekade lalu oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga masa pemerintahan SBY berakhir Oktober 2014, swasembada gula belum juga terwujud.

Mengapa cita-cita itu gagal diwujudkan? “Karena tidak pernah ada pendirian pabrik gula baru, penambahan lahan juga tidak ada, bagaimana mungkin,” ujar Direktur Utama PT Rajawal Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro di Kantornya, Jakarta.

Jangankan melakukan dua hal itu, menurut Ismet, revitalisasi pabrik gula tua saja ogah-ogahan. Alhasil, produksi gula lokal tak pernah meningkat.

Ini menjadi celah masuknya gula impor untuk memenuhi lubang kebutuhan konsumsi dalam negeri. Kalau sudah begini, produsen gula lokal kian terpukul.

2. Tiap tahun 2 juta gula impor masuk banjiri Indonesia

Direktur Keuangan RNI Dandos Matram mengatakan tingginya kebutuhan masyarakat selalu jadi dalih untuk melakukan impor. Yang terpenting, kebutuhan terpenuhi agar harga stabil.

“Kebutuhan gula nasional 5 juta sekian, suplai dari lahan kita 3 juta ton sekian jadi masih kurang 2 juta ton sekian,” jelasnya.

3. Tahun depan petani tebu Indonesia ‘mati’

PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) menilai tahun 2015 akan menjadi tahun kematian bagi petani tebu Indonesia. Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro memaparkan, derasnya impor gula rafinasi yang masuk ke Indonesia, semakin tak terbendung.

Ismed mengatakan, seharusnya gula rafinasi hanya dipasok untuk industri makanan dan minuman, namun gula rafinasi kini telah masuk ke pasar konsumen. “Ini kan sudah ada aturannya, tapi ini dilanggar dan tidak ada hukuman bagi pelanggaran tersebut,” kata Ismed di Kantor Pusat RNI, Jakarta.

Ismed memaparkan, kebutuhan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan minuman di Tanah Air adalah sebanyak tiga juta ton per tahun. Sayangnya, kuota impor tersebut sering kali bocor hingga gula rafinasi sampai ke konsumen rumah tangga.

4. Pemerintah tidak serius wujudkan swasembada gula

Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro pesimis Indonesia akan mencapai swasembada pangan, khususnya gula, apabila pemerintah tidak memiliki perlindungan terhadap petani lokal. “Berbagai regulasi jadi nothing ketika tidak ada pencegahan itu beredar. Perlindungan terhadap industri gula sangat minimal bahkan tak ada, omong kosong mau swasembada atau kedaulatan gula,” tegas Ismed.

Indonesia, lanjut Ismed, sudah diserbu gula impor dan selundupan beberapa tahun belakangan ini, dan diproyeksi masih akan terus berlanjut apabila pemerintah masih enggan melindungi petani lokal.

“Jawa Timur dan Jawa Tengah diserbu gula rafinasi. Indonesia Timur tak hanya gula rafinasi tapi juga gula selundupan dari Australia. Paling tidak 1 Januari kita akan diserbu gula dari Vietnam dan Thailand yang harganya sangat murah. Tidak ada perlindungan terhadap petani tebu,” tutup Ismed.

5. Gula impor bikin pabrik gula BUMN rugi Rp 2,5 triliun

Pabrik gula milik perusahaan pelat merah diperkirakan menderita kerugian Rp 2,5 triliun tahun ini. Penyebabnya, serbuan gula impor.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismet Hasan Putro, di kantornya, Jakarta, Rabu (10/12). RNI merupakan salah satu BUMN memproduksi gula.

“Pabrik gula BUMN harus menanggung kerugian sebesar Rp 2,5 triliun seluruhnya tahun ini. Itu akibat gula dikuasai pasar rafinasi sampai sekarang.”

Ismet menjelaskan, gula impor dijual murah. Akibatnya gula lokal tak laku sehingga menumpuk di gudang.

“Sebanyak 1,2 juta ton gula yang masih tersimpan di gudang. Jadi nasib pabrik gula BUMN itu tragis dia diperlakukan secara diskriminatif ,” jelas dia.