EQUITYWORLD FUTURES – Proses lelang jabatan direktur jendral pajak pengganti Fuad Rahmany memasuki babak akhir. Tim Penilai Akhir yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo dikabarkan memilih Sigit Priadi Pramudito sebagai Dirjen Pajak menggantikan Fuad yang pensiun Desember tahun lalu.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, kemarin. “Ada empat kan. Salah satu dari 4 itu Pak sigit ya. Sudah ditetapkan dirjen pajak, seingat saya Pak Sigit. Karena itu yang pertama kali disidangkan,” ujarnya di Istana Negara, Jakarta.

Jika resmi terpilih, tugas berat langsung menanti Sigit. Pasalnya, pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepakat menetapkan target pajak tahun ini sekitar Rp 1.484 triliun.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, hanya satu target yang perlu dikejar dirjen pajak pengganti Fuad Rahmany. “Target penerimaan pajak saja dulu lah, yang paling simpel,” singkat Bambang.

Presiden Jokowi sendiri menginginkan setiap pembantunya dapat mencapai target yang ditetapkan. Dia bahkan mengultimatum akan mengganti para pejabat yang tidak mampu memenuhi target.

Sebagai instansi vital untuk pembangunan bangsa maka peran pimpinan harus signifikan. Tentu agar operasional ditjen pajak berjalan maksimal. Seperti apa sosok calon dirjen pajak pilihan Jokowi?

Berikut merdeka.com mencoba merangkumnya untuk pembaca.

1. Punya harta miliaran

Berdasar Pengumuman Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Desember 2011 harta kekayaan Sigit mencapai Rp 21 miliar (21.892.611.877).

Total kekayaan Sigit bertambah Rp 8 miliar dalam kurun waktu dua tahun. Pada 2009 harta kekayaan Sigit berjumlah Rp 13 miliar (13.883.449.881).

Selain dalam mata uang Rupiah, Sigit juga punya harta dalam bentuk dolar AS. Nilainya USD 39.536 per Desember 2011.

Dari laporan per Desember 2011, Sigit punya daftar panjang harta tidak bergerak baik berupa bangunan maupun tanah. Semisal dua bangunan seluas 500 m2 dan di Jakarta Selatan. Dia juga punya tanah seluas 4.000 m2 juga di Jakarta Selatan. Ada pula harta berupa tanah dan bangunan seluas 960 m2 dan seluas 188 m2 juga di Jakarta Selatan.

Di luar jakarta, Sigit punya bangunan seluas 30 m2 dan 41 m2 di Kota Bandung. Di Bogor, Sigit punya tanah dan bangunan seluas 240 m2, dan tanah seluas 3.600 m2 di Jakarta Selatan.

Untuk harta bergerak, Sigit memiliki tiga buah mobil merek Daihatsu Xenia, Toyota Yaris, dan Toyota Kijang Innova.

Harta kekayaan Sigit ini lantas menjadi kontroversi. Tentu belum hilang dari ingatan masyarakat sejumlah kasus penyelewengan pegawai pajak seperti Gayus Tambunan.

Namun, sejumlah pihak menyatakan bahwa harta Sigit ini wajar. Pasalnya, dia memang terlahir dari keluarga kaya.

2. Sudah diperiksa PPATK dan KPK

Pencarian Direktur Jenderal Pajak hampir memasuki tahap terakhir. Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Mardiasmo mengaku sudah melakukan berbagai seleksi ketat untuk menemukan sosok tepat.

Sejauh ini, seleksi yang sudah dilalui di antaranya tes kesehatan, wawancara dengan pansel dan penulisan makalah. Di samping itu, Mardiasmo mengaku sedang menunggu kabar dari Badan Intelejen Negara (BIN) terkait rekam jejak peserta Dirjen Pajak.

Selain itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa calon dirjen pajak sudah diseleksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

“(Sigit) bukan rapor merah, kan kita sudah cek ke KPK, PPATK sudah ada semua,” kata Bambang.

3. Menkeu tidak masalah

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menanggapi dingin soal penunjukan Sigit sebagai calon kuat bos pajak. Meski begitu, Bambang yakin harta kekayaan Sigit tidak bermasalah dan masuk daftar merah KPK.

“(Sigit) bukan rapor merah, kan kita sudah cek ke KPK, PPATK sudah ada semua,” kata Bambang di Jakarta, Rabu (28/1).

Menkeu tidak mempermasalahkan bila anak buahnya memiliki harta miliaran rupiah. “Yang penting benar, sumbernya jelas dan sudah diklarifikasi,” ucapnya.

4. 4 Tahun urusi wajib pajak kelas kakap

Pria kelahiran 17 Mei 1959 ini merupakan pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Keuangan. Sejak 2011 dia ditunjuk menjadi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar, Jakarta.

Sigit merupakan PNS golongan IV/c. Karirnya di Ditjen Pajak dimulai sejak 1987.

5. Libas 27 pesaing

Setelah pendaftaran ditutup, ada 34 orang peserta yang memperebutkan kursi dirjen pajak. Dari jumlah itu menyisakan 28 orang peserta.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebut, hampir 95 persen pejabat di lingkungan Ditjen Pajak mengikuti lelang jabatan. Sehingga, tingkah laku dan kegiatan mereka dimonitor langsung oleh Ketua Pansel. “Calon Dirjen Pajak ada di ruangan ini, hampir 95 persen ada di sini,” kata dia.

Kursi dirjen pajak merupakan jabatan prestisius yang tidak bisa diisi sembarangan orang. Apalagi tugas dan tanggung jawabnya besar. Sebab, pajak merupakan instrumen utama penerimaan negara. Selama ini, realisasi penerimaan pajak hampir selalu meleset dari target yang ditentukan pemerintah.