EQUITYWORLD FUTURES –  Menjelang Natal, umat Islam di Indonesia kerap kali berpolemik soal boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Soal ucapan selamat, di kalangan ulama pun beragam pendapatnya. Ada yang boleh dan tidak.

Bagi yang membolehkan pengucapan selamat Natal, alasannya hanya untuk toleransi beragama. Artinya masyarakat menghormati keberadaan agama atau kepercayaan lain yang berbeda.

Sedangkan yang melarang, khawatir mengucapkan selamat Natal bisa mengganggu keyakinan umat Islam. Di sini pro dan kontra terjadi.

Bagaimana para ulama menyikapi pro kontra ini, berikut ini kisah pada ulama soal toleransi dan Natal seperti dirangkum merdeka.com, Rabu (23/12):

1. Yusuf Mansur: Saya memilih tak ucapkan selamat Natal

Ustaz kondang Yusuf Mansur bercerita dia bersahabat baik dengan pendeta Gilbert Lumoindong. Bahkan saat Yusuf Mansur ulang tahun, pendeta Gilbert mengucapkan milad kepadanya.

“Pastor Gilbert L dan istrinya ngirim ini (gambar) sebagai ucapan milad ke saya. Beautiful relationship. Thanks,” kata Yusuf Mansur dalam akun Twitternya beberapa waktu lalu.

Gambar yang dikirim adalah foto pendeta Gilbert dengan istrinya yang sedang mengucapkan selamat milad pada Yusuf Mansur. Gambar itu kemudian diposting Yusuf Mansur ke akun Twitternya dan Instagram.

Meski berkawan baik dengan pendeta Gilbert, Yusuf Mansur memilih tak mengucapkan selamat Natal saat perayaan nanti. Dia yakin pendeta Gilbert memahami sikapnya.

“Pendeta Gilbert mengerti dan sangat paham. Beliau tahu say memilih tidak mengucapkan selamat natal. Masih banyak cara dan kami tetap bersaudara,” Ujar Yusuf Mansur.

“Saya dengan pendeta-pendeta lain, dari Katolik, Nasrani, juga kawan-kawan Budha, Hindu, antar kami sangat-sangat bersahabat. Kuncinya: komunikasi yang tulus nan ikhlas,” imbuhnya.

2. Habib Rizieq: Enggak boleh ganggu orang Kristen

Di tengah polemik boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan Selamat Natal dan memakai topi Sinterklas, media sosial sedikit disejukkan oleh sebuah foto yang menampilkan dua pimpinan umat Islam-Kristen sedang bergandengan tangan.

Dia adalah Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dan Pemimpin Gereja Bethel Indonesia (GBI) Glow Fellowship Center, Pendeta Gilbert Lumoindong. Foto itu disebar lewat Twitter oleh akun @PastorGilbertL dan @DPP_FPI pada 15 Desember lalu.

Setelah pertemuan Habib Rizieq Syihab dan Pendeta Gilbert Lumoindong, hubungan Front Pembela Islam (FPI) dengan pemimpin Pemimpin Gereja Bethel Indonesia (GBI) Glow Fellowship Center itu makin akrab. Lewat Twitter, FPI bahkan meminta Pendeta Gilbert untuk menyampaikan rekaman suara Habib Rizieq kepada umat Nasrani perihal Natal.

“Pak Pastor ?@PastorGilbertL, tolong sampaikan rekaman (Habib ?@syihabrizieq) ini kpd umat Nasrani,” kicau akun @DPP_FPI dengan menautkan link https://t.co/qNFU6DbCtk pada Rabu 17 Desember lalu.

Link yang kemudian di-retweet Pendeta Gilbert itu berisi rekaman suara Habib Rizieq yang menyatakan haram jika orang muslim mengganggu acara Natal. Rekaman suara Habib Rizieq ini seperti dalam sebuah ceramah yang dihadiri sejumlah jemaah. “Kita mengganggu orang Kristen Natalan juga nggak boleh saudara. Nggak boleh! Biarkan mereka merayakan Hari Natal, biarkan mereka bergembira di Hari Natal, biarkan mereka memperingati Hari Natal. Jangan kita ganggu gereja mereka, jangan ganggu acara mereka. Haram kalau kita ganggu mereka,” demikian isi rekaman suara Habib Rizieq.

3. MUI: Boleh ucapkan selamat Natal

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengungkapkan tak ada larangan khusus kepada umat Islam untuk memberikan ucapan selamat Natal. Hal itu merupakan ekspresi budaya masyarakat yang hidup berdampingan.

“Kalau sekadar konteks kultural budaya sebagai refleksi persahabatan maka dapat dilakukan dengan berkeyakinan bahwa itu tidak pengaruhi akidah, tapi sesuai dengan keperluan. Kalau tidak perlu ya enggak apa-apa, kalau perlu karena ada sahabat baik ya enggak apa-apa,” kata Din di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Selasa (23/12).

Menurutnya, pemaknaan agama Islam tidak sempit dengan melarang menghargai dan menghormati hari besar agama lain. Ucapan selamat dimaksudkan untuk saling menyatakan rasa penghormatan.

“Perayaan Natal meskipun tujuan menghormati Yesus akan tetapi tidak bisa dikaitkan dengan masuk ke akidah,” terang dia.

Ucapan selamat Natal yang dilakukan oleh umat Islam sering menjadi polemik di tengah masyarakat. Ada yang membolehkan ada yang tidak.

4. Gus Dur pernah ucapkan selamat Natal

Di tengah sakit yang mendera pada 25 Desember 2009, seperti biasanya Gus Dur masih menyempatkan diri menelepon untuk mengucapkan “selamat Natal dan Tahun Baru”, sekaligus menyampaikan salam kepada Romo Kardinal dan teman-teman sejawat lainnya. Demikian tulisan pembuka Romo Antonius Benny Susetyo, Pastor dan Aktivis dalam buku berjudul: Damai Bersama Gus Dur .

“Saya menanyakan kondisi beliau yang oleh beberapa media sudah dikabarkan sakit. Beliau menjawab bahwa dirinya sehat-sehat saja dan saat itu berposisi di kantor PBNU (juga sudah menanyakan sudah makan bubur),” kata Romo Benny yang juga pendiri Setara Institute, itu.

Cerita Romo Benny itu cukup menggambarkan betapa Gus Dur masih teguh memegang prinsip toleransi antar umat beragama di negeri yang majemuk ini. Sikap Gus Dur itu ada baiknya diingat kembali ketika sekarang sedang ribut-ribut mengharamkan umat Islam mengucapkan selamat Natal dan memperingati Tahun Baru Masehi.

Gus Dur juga pernah menulis artikel di Koran Suara Pembaruan pada 20 Desember 2003 berjudul: Harlah, Natal dan Maulid. Menurut Gus Dur, kata Natal yang menurut arti bahasa sama dengan kata harlah (hari kelahiran), hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka.

Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum seperti dalam bidang kedokteran ada istilah perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”.

Dengan demikian, maksud istilah ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh ‘perawan suci’ Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.