EQUITYWORLD FUTURES – Bank Indonesia (BI) menyatakan, berdasarkan penelitian pihaknya, saat ini tujuan masyarakat dalam membeli properti bukan lagi sebagai tempat tinggal, melainkan komoditas investasi.

“Sekarang properti sudah menjadi barang investasi, bukan lagi kebutuhan primer. Survei kami menunjukkan properti yang dimiliki bukan untuk ditempati,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A. Johansyah, di Jakarta, Minggu (21/7/2013).

Hal ini diamini oleh taipan properti Ciputra. Pertumbuhan sektor properti di Indonesia diproyeksi masih akan terus berkembang. Komisaris Utama Grup Ciputra, Ciputra, memperkirakan bisnis di sektor properti dalam tiga tahun ke depan masih akan mengalami pertumbuhan yang pesat.

Ciputra menilai, masyarakat Indonesia masih membutuhkan tempat tinggal. Faktor tersebut yang mendorong pertumbuhan sektor properti di Tanah Air dan mendongkrak penjualan para pengembang perumahan.

Selain itu, harga rumah di Indonesia masih relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan negara lain. “Sedangkan faktor terakhir yang membuat bisnis properti masih tetap tinggi, karena banyak investor yang mau masuk ke sektor tanah dan ini berhubungan dengan properti,” tutur Ciputra.

Lamudi, portal properti global untuk pasar di negara berkembang, menilai peluang investasi tak hanya berada di Indonesia, melainkan di dunia.

Populasi dunia berkembang dengan sangat pesat, dengan 150.000 orang bertambah setiap harinya. Pada 2050 nanti diperkirakan populasi dunia akan mencapai 9 miliar orang. Sumbangan terbesar dari populasi yang bertumbuh cepat ini berasal dari pasar berkembang di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan bahwa dalam tahun-tahun mendatang, sekitar 70 persen pertumbuhan dunia akan datang dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Dengan munculnya gejala ini, muncul pula banyak kesempatan bagi investor pasar berkembang, seperti pada sektor konstruksi dan perumahan yang mengalami ekspansi besar-besaran.

Lalu apa tips bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis sektor properti? Berikut merdeka.com akan menjabarkannya berdasarkan pandangan Lamudi.

1.
Pelajari hukum lokal dan kesulitan yang ada

Sebelum berinvestasi di pasar real estate negara berkembang, investor sebaiknya mengumpulkan informasi yang akurat tentang hukum dan kesulitan yang berlaku di negara tersebut.

Investor asing sering mengalami kesulitan dalam membeli properti di beberapa negara berkembang. Di Indonesia misalnya, orang asing tidak diizinkan memiliki properti bersertifikat Hak Milik, namun mereka masih bisa menyewa bangunan bersertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) untuk mendirikan perwakilan perusahaan asing misalnya, dan apartemen non-subsidi sebagai tempat tinggal.

Pastikan Anda memeriksa informasi resmi pemerintah dan menghubungi pengacara lokal, serta secara rutin membaca berita agar terupdate dengan perkembangan terbaru.

2.
Rencanakan secara jangka panjang

Beri waktu untuk Anda mengamati pasar tersebut dan amati dengan cermat tampilan jangka panjangnya sebelum berinvestasi. Dengan wilayah yang cenderung berubah-rubah, sangat penting bagi Anda untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Namun cobalah melihat tampilan jangka panjang pasar tersebut.

Investasi properti selalu merupakan keputusan jangka panjang yang seluruh informasinya Anda ketahui terlebih dahulu sebelumnya, namun hal ini semakin penting dilakukan bagi pasar berkembang yang tinggi tingkat perubahannya.

Cara terbaik menyiapkannya adalah untuk menggunakan sumber independen terpercaya yang menyediakan informasi lokal dan nasional.

3.
Cari partner lokal

Menemukan pengacara, penerjemah, ataupun broker real estate lokal yang cocok dan bisa menjadi kontak Anda di wilayah tersebut sangatlah diperlukan untuk bernavigasi di pasar lokal.

Pilih orang yang memang ahli di bidangnya dan memiliki pengetahuan lokal yang Anda perlukan untuk sukses di pasar tersebut. Ini akan menyimpan waktu dan tenaga Anda dalam jangka panjang.

4.
Bangunlah portfolio yang bermacam-macam

Selalu ada fluktuasi harga yang konstan di pasar properti di seluruh dunia, namun hal ini bahkan lebih sering terjadi di pasar berkembang. Karena itu para investor harus fleksibel dan mampu secara cepat beradaptasi pada perubahan.

Berinvestasi di beberapa jenis properti yang berbeda di beberapa wilayah dan negara dapat menyeimbangkan kesempatan Anda di tengah pasar yang bergejolak. Kemampuan beradaptasi adalah kunci sukses Anda dalam jangka panjang.

5.
Pahami perbedaan budaya yang ada

Hal ini berlaku bagi siapa saja yang melakukan bisnis di negara yang bukan negara asal mereka. Jika Anda berencana untuk mengunjungi negara yang Anda tuju untuk investasi, lakukanlah riset terlebih dahulu dalam praktik budaya dan kebiasaan sebelum kedatangan Anda.

Sesuatu yang kecil seperti bagaimana Anda mengenalkan diri Anda dalam pertemuan bisnis bisa sangat beragam dari suatu negara ke negara lain. Di Myanmar misalnya, etiket bisnis diambil dari kebiasaan agama Budha, tradisi seperti melepas sepatu sebelum memasuki rumah orang masih sering dilakukan.

Mengetahui perbedaan-perbedaan seperti ini sejak awal dapat menghindari Anda dari masalah miskomunikasi ke depannya.