PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II berambisi ikut serta dalam proyek pembangunan ruas tol Cilincing-Cibitung. Ruas tol sepanjang 33 Km dengan total nilai investasi Rp 3,5 triliun itu dipegang investor Malaysia, PT MTD CTP Expressway.

Direktur utama PT. Pelindo II, R.J Lino mengaku, saat ini pihaknya tengah melakukan proses negosiasi mendapatkan 49 persen saham yang dimiliki oleh PT MTD CTP Expressway. Dalam proyek ini, investor asal Malaysia menjadi pemegang saham mayoritas.

“Ini lagi negosiasi, kalau negosiasi satu bulan selesai. Kita take over 49 persen saham, kan itu investor Malaysia sahamnya 90 persen,” kata Lino di Kantornya, Jakarta Utara, Selasa (2/9).

Dari penuturannya, Lino tidak hanya ingin mencaplok proyek, tapi juga membantu pembebasan lahan yang dilakukan kementerian Pekerjaan umum (PU). kebutuhan anggaran pembebasan lahan ruas tol yang menghubungkan jalur koneksi dari Pelabuhan Tanjung Priok ke gudang logistik dan kawasan industri Jababeka ditaksir mencapai Rp 1,6 triliun.

“Kita bantu bebasin lahan, kita harap triwulan kedua tahun depan sudah mulai pembangunan dan selesai dalam dua tahun,” kata dia.

Dari pengakuannya, ambisi Pelindo II membeli proyek dilatarbelakangi pertimbangan bahwa ruas tol ini strategis sebagai jalur khusus truk angkutan logistik.

“Ini kan semacam track way khusus untuk truk ya seperti jalan untuk busway. Nanti juga ada kriteria khusus truk yang boleh masuk, pokoknya tidak boleh mogok,” ucap dia.

Namun, Lino masih menyembunyikan besaran anggaran yang disiapkan untuk akuisisi 49 persen saham milik investor Malaysia tersebut.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), Kementerian PU, Abdul Ghani mengaku belum mengetahui rencana Pelindo. Sebab, dari pihak Pelindo II maupun PT. MTD CTP expressways belum memberikan laporan terbaru soal rencana bisnis.

“Masalah tersebut belum ada usulan yang masuk ke PU, jadi saya belum bisa komentar,” kata Ghani melalui pesan singkat kepada merdeka.com.

Untuk diketahui, saat ini PT Pelindo tengah melakukan pembangunan perluasan Pelabuhan Tanjung Priok tahap Terminal Kontainer I yang selesai pada akhir 2014. Sedangkan untuk keseluruhan penyelesaian Terminal Kontainer II dan III akan selesai pada 2030.

Pembangunan New Priok Port menelan dana sebesar USD 25 miliar. Nantinya, New Priok Port akan memiliki kedalaman minus 20, sehingga akan mampu menampung kapal dengan kapasitas yang besar hingga 18.000 TEUs.

Namun untuk tahap pertama hanya akan mencapai minus 16. Untuk dana pembangunan sendiri bukan berasal dari APBN, melainkan menggunakan dana internal perusahaan.

New Priok Port sendiri adalah pelabuhan baru, yang dibangun dengan mereklamasi laut di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. New Priok Port sendiri nantinya akan mampu menampung kapasitas sebesar 15 juta TEUs per tahun, atau lebih besar dari kapasitas maksimal Pelabuhan Tanjung Priok saat ini yang hanya mampu menampung 7 juta TEUs.