Untuk memaksimalkan pengembangan industri sagu nasional seperti yang dilakukan PT Perhutani (Persero) dibutuhkan kerja sama antar instansi. Salah satunya terkait ketersediaan energi. Perhutani harus menggandeng PLN.

“Harus ‘dikeroyok’. PLN harus cepat menyelesaikan pembangkit listrik untuk memasok energi bagi pabrik sagu ini. Kami sudah negosiasi harga beli listrik dari PLN sebesar USD 24 sen/kwh dari yang ditawarkan PLN sebesar USD 32 sen/kwh”, ujar Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukamanto kepada wartawan, Sorong, Kamis (4/9).

Tidak hanya infrastruktur ketenagalistrikan, pabrik sagu milik Perhutani juga memerlukan fasilitas dermaga untuk pintu masuk bahan baku sagu sekaligus untuk pengiriman hasil produksi.

Dia menjelaskan, pembangunan pabrik sabu merupakan amanat Peraturan Presiden No. 65/2011 dan Peraturan Presiden No. 66/2011. Ini sebagai bagian dari mempercepat pembangunan Papua dan Papua Barat.

“Sejalan dengan Perpres tersebut, seharusnya pihak terkait segera membangun berbagai fasilitas pendukung untuk industri sagu. Kami tidak akan sanggup sendirian,” jelas dia.

Operasional pabrik saja tidak cukup menjadikan Indonesia sebagai produsen sagu terbesar di dunia. Harus ada dukungan lain berupa infrastruktur memadai mulai dari pelabuhan hingga penyediaan energi listrik.

“Jika fasilitas tersebut disiapkan, maka dengan cepat Indonesia bisa menguasai pasar sagu dunia,” ungkapnya.

Kualitas pohon sagu asal Papua cukup terkenal dengan julukan Sagu Raja, yang bisa menghasilkan tepung sagu hingga 900 kilogram per batang.

“Berbeda dengan pohon sagu di Malaysia yang rata-rata menghasilkan tepung sagu maksimal 250 kg per batang,” papar dia.

Karena alasan itulah Perhutani kepincut masuk bisnis sagu sebagai mesin pertumbuhan pendapatan bagi perusahaan yang saat ini masih didominasi dari hasil penanaman kayu.

“Dengan investasi sekitar Rp112 miliar, pabrik sagu berkapasitas 30.000 ton sagu per tahun itu ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2015,” tutupnya.