EQUITYWORLD FUTURES – Puluhan anak putus sekolah di Pulau Kera, Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperingati HUT ke-70 Republik Indonesia di pinggir pantai di wilayah itu.

Meski panas terik matahari membakar kulit dan hembusan angin yang bertiup begitu kencang, tak menurunkan semangat anak-anak untuk menaikan bendera merah putih dengan menggunakan batang bambu kering berukuran kecil.

Pantauan Kompas.com, Senin (17/8/2015) kamarin, terlihat beberapa kali tiang bendera nyaris roboh, akibat tak mampu menahan tiupan angin. Namun karena ketulusan hati dari anak-anak inilah yang membuat tiang tersebut seolah-olah bernyawa, sehingga dapat berdiri tegak dan kokoh.

Upacara bendera sederhana ini, selain diikuti oleh anak-anak, adapula sejumlah orang tua yang ikut hadir dan beberapa orang pengunjung dari komunitas Art Colaboration dan sejumlah wartawan asal Kota Kupang.

Begitu tiga orang pengibar bendera, masing masing, Amran, Soleh dan Rofiq menaikan bendera merah putih, lagu Indonesia Raya pun berkumandang dan dinyanyikan secara bersama-sama dengan penuh semangat.

Dalam upacara itu, tidak ada inspektur upacara dan komandan upacara. Upacara tersebut hanya diisi dengan pengibaran bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya, dan beberapa buah lagu perjuangan yang dinyanyikan tidak tuntas, karena memang banyak warga dan anak-anak yang tak menghafal lirik lagu secara baik.

Sekitar setengah jam kemudian, upacara pun selesai dan semua anak-anak dan warga akhirnya membubarkan diri.

Komunitas Art Colaboration dan wartawan asal Kota Kupang yang membawa sejumlah bingkisan dari Kupang, kemudian membagi-bagikan bingkisan tersebut kepada warga setempat.

Malik (11), salah seorang peserta upacara, kepada Kompas.com usai upacara, mengaku sangat senang bisa mengikuti upacara bendera, karena memang selama ini dia tidak pernah sekalipun mengikuti upacara bendera.

“Kampung kami ini dulunya ada sekolah madrasah, namun karena rusak disambar petir, maka sampai saat ini kami semua anak-anak tidak bersekolah. Guru kami pun hanya satu orang saja dan saat ini dia sudah pulang ke kampungnya di Jawa, sehingga tidak ada lagi yang mengajari kami,” kata Malik.

Sementara itu, Ketua RT 2/RW 13, Hamdani Saba (50) mengatakan, di pulau tempat dia dan warganya bermukim, terdapat kurang lebih 60 anak-anak yang tidak bersekolah karena memang tidak memiliki sekolah dan guru.

“Hari ini kami senang karena bisa mengikuti upacara sederhana di pantai bersama anak-anak yang tidak bersekolah. Semua anak di sini pada dasarnya memang punya niat besar ingin bersekolah, tetapi karena kondisi seperti ini, terpaksa mereka harus putus sekolah,” kata Hamdani.

Hamdani pun berharap, Pemerintah Kabupaten hingga Pusat, bisa segera membantu membangun sebuah sekolah di tempat mereka, sehingga anak-anak bisa bersekolah dengan baik.