EQUITYWORLD FUTURES – Banyak pemburu beasiswa mengira bahwa dengan berbekal IPK tinggi dari universitas terkenal dan nilai bahasa Inggris tinggi, mereka secara otomatis mudah melanjutkan studi atau meraih beasiswa di luar negeri. Mereka lupa, ada beratus-ratus, bahkan beribu pelamar lain memiliki IPK di atas 3 atau nilai IELTS di atas 6.5.

“Nilai dan angka tersebut hanyalah persyaratan minimal. Itu semua hanya knock out of criteria,” kata Indy Hardono, Koordinator Tim Beasiswa pada Netherlands Education Support Office (NESO) di Jakarta, Rabu (13/1/2016).

Agar dapat terpilih, menurut Indy, harus ada faktor lain yang membuat Anda sebagai kandidat mampu mengungguli pelamar atau kandidat lainnya. Faktor itu harus bisa membedakan Anda dengan pelamar lain.

“Apa itu yang berbeda, motivasi. Lembaga pemberi beasiswa memang mencari kandidat yang punya motivasi kuat dan tujuan studi yang jelas. Mereka mencari kandidat dengan self awareness tinggi terhadap kekuatan dan kelebihannya. Juga, terhadap potensi dan passion yang dimilikinya,” kata Indy.

Sebutlah, Indy mencontohkan, Anda seorang lulusan perguruan tinggi negeri (PTN) terkenal dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,8. Dengan modal itu, Anda ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 di bidang food technology di Wageningen University, sebuah universitas pertanian terbaik di dunia yang berada di Belanda.

“Saat diminta menjelaskan mengapa Anda melamar program tersebut, kira-kira apa jawaban Anda. Jika jawabannya ingin memperdalam ilmu yang telah didapatkan di Indonesia atau ingin meraih karir lebih baik di bidang tersebut, maka bersiaplah Anda bersaing dengan ratusan mahasiswa lain untuk bisa studi di kampus itu,” kata Indy.

Indy mengakui, banyak pelajar Indonesia yang menemui kesulitan dan tidak dapat menjawab dengan tepat dan artikulatif tentang motivasi mereka melanjutkan studi di luar negeri dan mengambil bidang studi tersebut.

“Biasanya jawabannya standar, bahkan kelewat sederhana. Misalnya, saya ingin memperdalam ilmu yang didapat saat kuliah S-1. Atau, saya ingin memperluas wawasan saya, atau ingin mendapat pengalaman internasional,” kata Indy.

M LATIEF/KOMPAS.com Organisasi pemberi beasiswa manapun mendapat mandat sama dari pendonor masing-masing, yaitu mencari kandidat terbaik, yang worth investing. Untuk itulah, Anda harus menjadi kandidat yang benar-benar diperhitungkan itu.

Surat motivasi

Tahun ini ‘ Holland Scholarship Day‘ digelar Sejak pukul 09.30 pagi pada Sabtu, (16/1/2016), di Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta. Selain berbagai kegiatan presentasi beasiswa antara lain StuNed, Orange Tulip Scholarship, Netherlands Fellowship Programme, dan lainnya, acara paling penting hari itu adalah sesi presentasi “How to Write Motivation Letter”.

“Kenapa penting, karena di tengah ratusan, bahkan ribuan formulir pendaftaran yang masuk, motivation statement dan CV yang artikulatif, yang distinctive, menjadi satu nilai jual di mata lembaga pemberi beasiswa. Baik itu motivation statement dan CV itu harus bikin mereka kepincut,” kata Indy.

Indy menuturkan, motivation statement dan curriculum vitae tidak perlu berbunga-bunga, apalagi sampai copy paste dari sumber lain. Anda harus bisa membuat lukisan potret diri yang lugas, tidak perlu cantik, tapi charming dan dapat mencuri perhatian tim seleksi beasiswa.

Sebagai calon penerima beasiswa, Anda harus membuat lukisan potret diri yang tidak membuat pemberi beasiwa nantinya akan mengatakan bahwa Anda berhutang pada negara, dan beruntung mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

“Tapi, lukisan potret diri Anda yang mampu berkata bahwa Negara atau pemberi beasiswa akan sangat beruntung memilih saya. Cause I deserve it,” ujar Indy.

M LATIEF/KOMPAS.com Memilih sekolah di luar negeri, khususnya di Belanda misalnya, pelajar akan dihadapkan pada pertimbangan bahwa memilih bukan hanya sekadar urusan terkenal atau tidak, tapi cocok atau tidak.

Paradoks

Kemampuan membaca dan memahami faktor internal, yaitu potensi, minat, passion atau self awareness, serta sensibilitas membaca faktor eksternal, antara lain perubahan global atau tantangan masa depan dan ‘mengemasnya’ menjadi satu paket yang “menggiurkan” pihak pemberi beasiswa, adalah keharusan bagi para Anda sebagai pemburu beasiswa.

“Ingat, pemberi beasiswa tidak akan memberikan beasiswa kepada pelamar yang sekedar mencari pengalaman internasional atau memperluas jejaring, apalagi hanya ingin naik golongan karena telah mendapatkan gelar akademis lebih tinggi,” kata Indy.

Menurut dia, pemberi beasiswa tidak akan pernah kepincut dengan pelamar yang motivasi utamanya belajar ke luar negeri sekadar untuk mendapat posisi lebih baik sepulang studi di negeri orang. Organisasi pemberi beasiswa manapun mendapat mandat yang sama dari pendonor masing-masing, yaitu mencari kandidat terbaik, yang worth investing! Anda harus menjadi kandidat yang benar-benar diperhitungkan!

“Memang kenapa kalau Anda lulusan PTN ternama dan lulus sebagai lulusan terbaik? Memang kenapa kalau Anda pernah jadi pemimpin organisasi mahasiswa di kampus? Itu tidak berarti apa-apa, jika Anda tidak bisa mengkaitkan potensi diri Anda dengan study objective Anda,” kata Indy.

Yang terjadi akhirnya adalah sebuah paradoks. Di satu sisi over valuation, yaitu kondisi dimana Anda merasa yang terbaik dan paling berkualifikasi, tapi tak dibarengi self awareness tentang kekuatan dalam diri Anda yang seharusnya dapat menjadi katalis bagi keberhasilan studi dan rencana masa depan setelah selesai studi.

“Jadi, jelas enggak nyambung,” ucapnya.