EQUITYWORLD FUTURES – Rencana pemerintah membentuk holding BUMN energi berdampak sangat baik bagi kedaulatan energi nasional. Demikian menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro.

“Selain bisa meningkatkan efisiensi, juga membuat kemampuan holding bisa lebih besar. Jadi, positifnya sangat banyak,” ujar dia di Jakarta, Minggu (5/6/2016).

Menurut dia, pembentukan holding meningkatkan efisiensi karena akan ada penyatuan infrastruktur antara Pertamina dan PGN.  Selain itu, dengan adanya lembaga baru nanti, tentu penugasan akan lebih sederhana.

Salah satunya, lanjutnya, adalah persoalan keterbukaan akses, yang mana selama ini selalu bermasalah, maka dengan adanya holding, persoalan itu akan selesai.

Komaidi menilai dengan holding maka kemampuan investasi juga jauh lebih besar, karena penggabungan aset akan bisa dimonetisasi, artinya bisa menjadi agunan atau jaminan untuk penerbitan obligasi jika ingin melakukan pembiayaan.

Dia menyatakan ketidakheranannya jika saham PGN mengalami rebound ketika pemerintah menggulirkan rencana pembentukan holding, karena para investor melihat bahwa pembentukan holding memang sangat positif.

Apalagi, perencanaan itu dilakukan langsung oleh Kementerian BUMN, sehingga investor semakin mendapat jaminan dari pemerintah.

“Tren saham tersebut juga terjadi di berbagai negara. Karena penyatuan perusahaan akan menjadikan lebih efisien,” lanjutnya.

Oleh karena itu, Komaidi mengajak semua pihak, tidak hanya pemerintah, namun juga Pertamina dan PGN, untuk menyambut baik respon positif tersebut.

Urgen

Sebelumnya pakar energi UGM Fahmy Radhi juga mengatakan, bahwa di tengah persaingan industri migas yang semakin ketat, pembentukan holding BUMN Energi di Indonesia memang menjadi urgen.

Berbicara pada talkshow bertajuk, “Holding Energi untuk Apa?” di KAHMI Center Jakarta, Sabtu (4/5/2016), Fahmy menegaskan, pembentukan holding diyakini dapat mendorong bisnis holding BUMN energi menjadi lebih kompetitif, dapat memperkuat struktur aset dan modal, serta menjadi lebih efisien.

“Saya setuju holding energi dibentuk. Karena dalam kondisi harga minyak yang selalu menurun, ini memang perlu ditata kembali. Saya setuju, karena bisa mendorong efisiensi akan mendorong akumulasi modal, dan akan lebih kompetitif. Ini memang suatu kebutuhan,” katanya.

Oleh karena itu, Fahmy memberi apresiasi kepada Presiden Jokowi dalam rapat terbatas tentang pembentukan holding di semua BUMN, begitu pula dengan Menteri BUMN Rini Soemarno, yang merespons dengan cepat pernyataan Presiden.

Menurut dia, holding sangat tepat sebagai langkah untuk menata tata kelola, yang mana tata kelola tersebut haruslah yang memagari agar jangan sampai ada mafia migas.

Di sisi lain, Fahmy juga setuju jika Pertamina menjadi National Oil Company (NOC), karena setiap negara memang seharusnya memiliki satu NOC.

Keberadaan NOC, tambahnya, penting sebagai representatif, misalnya untuk melakukan tender di luar negeri atau akan menjual minyak atau gas ke luar negeri, maka NOC bisa berperan.

Sementara terkait usulan pembentukan National Gas Company (NGC), Fahmy juga setuju, namun tidak sekarang, karena saat ini sebaiknya memang hanya NOC.