EQUITYWORLD FUTURES – Apa faktor yang dapat menaikkan permintaan pasar, apalagi untuk produk kain? Apakah produk berkualitas yang dijual dengan harga murah? Atau ada “faktor” lain?

“Yang namanya tenun, sangat bergantung pada apa yang dipakai oleh (mereka yang) di ‘atas’ (pejabat atau orang penting, dan keluarganya),” ujar Hendar Suhendar, Ketua Paguyuban Kampung Tenun Panawuan, Desa Sukajaya, Kecamatan tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat ditemui Kompas.com, Kamis (19/5/2016).

Menurut Hendar, harga murah untuk produk berkualitas adalah satu hal yang dapat mendorong daya tembus pasar. Namun, ujar dia, pengaruh pemakaian oleh orang-orang penting dan para pejabat ini punya daya dorong lebih kuat untuk produk kain seperti tenun dan batik.

Semisal Presiden dan Ibu Negara mengenakan pakaian berbahan tenun buatan kelompok perajin kampungnya dan terekspos pemberitaan, kata Hendar, maka dalam sekejap produk tersebut akan laris.

Terlebih lagi, tenun masih punya citra barang mewah yang lebih banyak dipakai para pejabat dan tokoh penting. Citra lain yang melekat, tenun dipakai untuk acara formal.

Sebaliknya, kata Hendar, pasar akan sepi ketika orang-orang “yang di atas” lebih memilih memakai produk lain. Seperti sekarang, misalnya, pasar kain tenun sedang sepi karena mereka “yang di atas” lebih sering memakai batik.

Nah kalau lagi begini, rezeki buat perajin batik,” kata dia.

Saat pasar sepi…

Laiknya roda yang berputar, ujar Hendar beranalogi, rezeki dari usaha bisa naik dan ada pula waktunya turun. Bukan berarti produksi lalu berhenti ketika “roda” sedang di bawah. Saat penjualan sedang sepi seperti sekarang, para perajin tenun harus pintar memutar otak.

Setidaknya, ungkap Hendar, para perajin memikirkan cara agar kain produksi mereka tidak sekadar menumpuk di tempat usaha.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Salah satu perajin tenun sutra di Kampung Panawuan, Desa Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gambar diambil pada Kamis (19/5/2016)

“Kami (perajin) biasanya berinovasi bagaimana stok yang ada diolah lagi menjadi barang yang lebih menarik. Modifikasi warna atau sulaman bisa membuat barang (tersebut) kembali laku di pasaran,” tutur Hendar.

Cara lain, lanjut Hendar, kelompok perajin tersebut mencari informasi sebanyak-banyaknya soal produk apa yang sebenarnya sedang laku di pasaran. Beruntung, sekarang para perajin di kampung Hendar menjadi binaan dari program tanggung jawab sosial Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Cita Tenun Indonesia (CTI).

“PGN atau CTI sering beri info, misalnya produk A yang sedang laku di pasaran, maka kami sebaiknya produksi barang tersebut”  sebut Hendar.

Selain produk yang laku, informasi yang datang juga berupa tentang peluang promosi seperti pameran. PGN atau CTI biasanya memfasilitasi salah satu kelompok perajin ikutan secara bergantian.

“Kelompok manapun yang berangkat (ke pameran) biasanya dititipi produk dari kelompok lain. Nah dengan begini diharapkan produk yang masih banyak stok-nya bisa ikut laku terjual,” kata Hendar.

Di Kampung Panawuan, saat ini ada 12 kelompok perajin tenun sutra.