EQUITYWORLD FUTURES – Pasar Klewer memiliki sejarah panjang. Berdirinya pasar yang terletak di Solo itu juga menjadi tonggak politik pembangunan di era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Kini pasar Klewer yang diresmikan 19 Juni 1971 itu mengalami musibah. Si jago merah mengamuk melumat seluruh ‘tubuh’ pasar. Peristiwa ini pun menyisakan duka mendalam bagi para pedagang.

Jika menilik ke belakang, semula Pasar Klewer adalah pasar pakaian bekas, sebelum menjadi pasar tekstil besar sekarang ini. Pasar ini pun perkembangannya cukup pesat.

Istilah Klewer bermula dari orang-orang yang berjualan pakaian bekas (lungsuran), di sepanjang jalan-jalan Kota Solo. Saat zaman Jepang waktu itu terkenal zaman ‘Larang Sandhang Larang Pangan’, tak mengherankan bila pakaian bekas pun ramai dijual belikan.

Kala itu para pedagang tidak memiliki lapak. Mereka menyampirkan dagangan di pundak-pundak sambil menawarkan kepada siapa saja yang lewat, sehingga tampak ‘Pating Klewer. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, adalah hal biasa lantaran dilarang oleh petugas.

Pihak Kasunanan akhirnya menyadari tak bisa menghilangkan tradisi ini. Kemudian para pedagang dikumpulkan lapangan bekas Pasar Slompretan. Selanjutnya Pasar Slompretan tersebut di kenal sebagai Pasar Klewer.

Setelah diresmikan Soeharto, pasar ini kian menggeliat. Barang-barang yang dijual belikan bukan lagi barang lungsuran dan tidak kleweran lagi. Kini Klewer menjadi pasar batik terbesar di Asia.

Seantero negeri bahkan pihak asing pun begitu mengenal Pasar Klewer. Jika ke Solo pasti turis-turis akan mampir ke sana. Tentu diharapkan pasca-kebakaran pasar dapat dibangun kembali.

*dari berbagai sumber* memiliki sejarah panjang. Berdirinya pasar yang terletak di Solo itu juga menjadi tonggak politik pembangunan di era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Kini pasar yang diresmikan 19 Juni 1971 itu mengalami musibah. Si jago merah mengamuk melumat seluruh ‘tubuh’ pasar. Peristiwa ini pun menyisakan duka mendalam bagi para pedagang.

Jika menilik ke belakang, semula Klewer adalah pasar pakaian bekas, sebelum menjadi pasar tekstil besar sekarang ini. Pasar ini pun perkembangannya cukup pesat.

Istilah Klewer bermula dari orang-orang yang berjualan pakaian bekas (lungsuran), di sepanjang jalan-jalan Kota Solo. Saat zaman Jepang waktu itu terkenal zaman ‘Larang Sandhang Larang Pangan’, tak mengherankan bila pakaian bekas pun ramai dijual belikan.

Kala itu para pedagang tidak memiliki lapak. Mereka menyampirkan dagangan di pundak-pundak sambil menawarkan kepada siapa saja yang lewat, sehingga tampak ‘Pating Klewer. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, adalah hal biasa lantaran dilarang oleh petugas.

Pihak Kasunanan akhirnya menyadari tak bisa menghilangkan tradisi ini. Kemudian para pedagang dikumpulkan lapangan bekas Pasar Slompretan. Selanjutnya Pasar Slompretan tersebut di kenal sebagai Pasar Klewer.

Setelah diresmikan Soeharto, pasar ini kian menggeliat. Barang-barang yang dijual belikan bukan lagi barang lungsuran dan tidak kleweran lagi. Kini Klewer menjadi pasar batik terbesar di Asia.

Seantero negeri bahkan pihak asing pun begitu mengenal Pasar Klewer. Jika ke Solo pasti turis-turis akan mampir ke sana. Tentu diharapkan pasca-kebakaran pasar dapat dibangun kembali.