Garuda Indonesia mengalami kerugian USD 211,7 juta atau setara Rp 2,4 triliun akibat mahalnya harga bahan bakar pesawat (Avtur) di Indonesia. Menurunnya kondisi keuangan membuat Garuda dan maskapai penerbangan nasional lain sulit bersaing di kancah bisnis penerbangan internasional.

Harga avtur di Indonesia lebih mahal 10 persen ketimbang negara tetangga. Garuda pun diperbolehkan membeli avtur dari perusahaan lain atau negara tetangga yang lebih murah. Persetujuan itu disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan usai Rapat Pimpinan di Kantor Djakarta Llyod, Jakarta, Kamis (18/9).

“Intinya, saya mengizinkan Garuda untuk beli avtur di perusahaan lain selain Pertamina,” ujarnya.

Keputusan itu diambil usai rapat internal dengan Garuda Indonesia beberapa pekan lalu. Ini perlu dilakukan lantaran industri penerbangan domestik semakin terpuruk gara-gara mahalnya harga avtur yang dijual Pertamina.

Meski memperbolehkan membeli avtur dari perusahaan atau negara lain, Dahlan mengingatkan agar cara yang dipakai tidak suap-menyuap. “Tidak masalah, agar tidak terjadi money politic juga,” ungkapnya.