EQUITYWORLD FUTURES – Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Peribahasa itulah yang untuk cocok menggambarkan kisah nyata Tukijan, sang pemilik bengkel modifikasi sepeda motor ARM (Angga Racing Mobiek) Motor. Sebelum memiliki dua toko dan bengkel modifikasi seperti sekarang ini, banyak tantangan dan rintangan dihadapinya.

Pria asal Yogyakarta ini bercerita panjang lebar kepada KompasOtomotif. Pada awal 2000, ia mulai membuka usaha, yakni menjual spion, hingga pelat nomor sepeda motor. Saat itu, karena memiliki modal Rp 1,5 juta, Tukijan pun berjualan di pinggir jalan kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, menggunakan sepeda.

“Saya bekerja di pabrik dan pulang pukul 16.30, saya masih punya waktu sampai jam 18.00 dan saya manfaatkan dengan berjualan aksesori sepeda motor. Saat itu masih kecil-kecilan,” ujar Tukijan saat ditemui KompasOtomotif di bengkelnya yang berada di jalan Krt Radjiman Widyioningrat, Jatinegara Cakung, Jakarta Timur.

Saat itu, Tukijan melihat ada peluang berjualan aksesori sepeda motor. Seiring berjalannya waktu, pembelinya semakin banyak, karena saat itu waktunya bertepatan dengan orang jam pulang pabrik. Keuntungannya itu menurut Tukijan tidak dibuat untuk makan sehar-hari, tapi ia putarkan lagi ke barang sehingga aksesori yang dijualnya itu makin banyak.

Barang dan pembeli samakin banyak, maka saat itu ia memutuskan untuk mencari anak buah dan dari sepeda berubah ke gerobak. “Saya dibantu oleh satu orang dari kampung, ia tugasnya hanya merapihkan barang saja, nanti setelah saya pulang kerja, saya juga tetap membantunya,” katanya.

Lambat laun, keuntungannya semakin besar dan Tukijan pun memberanikan diri membeli mobil bak terbuka. Mobil tersebut dibeli secara kredit dan digunakan untuk berjualan aksesori di tempat yang sama. Karyawannya pun bertambah menjadi dua orang.

Selama berjualan, banyak rintangan yang harus dihadapi, jika musim Hujan maka tempat di mana ia berjualan terkena banjir dan saat kemarau terik sinar mataharinya begitu menyengat. Tukijan tidak pantang menyerah, sampai akhirnya mendapatkan tempat lebih layak.

“Saya pindah ke gubuk yang tempatnya dekat dengan pasar tapi paling ujung. Tempatnya sama di kawasan juga, tapi gubuk yang masih di bongkar pasang,” ucapnya.

Keuletan Tukijan berbuah hasil, sampai di 2010 ia memberanikan diri untuk menyuruh sang istri tercinta berhenti bekerja dan menjaga tokonya itu. Saat itu, pria berkumis tebal ini juga suda merambah ke arah modifikasi bodi sepeda motor.

“Saya berkata kepada istri, jika niat kita benar maka pasti ada jalannya dan akhirnya toko itu dipegang oleh istri dan ternyata semakin maju,” ujarnya.

Satu tahun setelah istri berhenti, Tukijan pun memutuskan hal yang sama. Ia melihat usaha yang ditekuninya dari nol ini benar-benar menjanjikan dan berbuah hasil yang baik. Saat itu pula ia memberanikan diri membuka cabang dan meminjam uang kepada bank.

“Pinjam ke bank saja susah karena rumah yang saya tempati dianggap tidak bisa memenuhi syarat. Tapi saya terus berusaha sampai akhirnya ada koperasi di daerah Priok yang mau dan saya membuka cabang di daerah Pegangsaan, Jakarta Utara,” ucapnya.

Toko dan bengkel yang ia miliki sudah dua dan otomatis karyawannya pun bertambah. Bengkel di kawasan industri Pulo Gadung masih ada dan dipegang oleh istri. Tapi karena pelangganya semakin banyak, maka akhirnya Tukijan memutuskan untuk pindah tempat.

“Di tempat ini (Jalan Krt Radjiman Widyioningrat, Jatinegara Cakung, Jakarta Timur) akhirnya saya membuka lagi dan meminjam uang ke bank. Di Pegangsaan ditutup karena tempatnya terlalu sempit. Disini saya sudah menyewa dua ruko,” ujarnya.

Tukijan menambahkan, kedua bengkelnya ini sama-sama memberikan penghasilan yang bagus. Terbukti, barang yang dijual serta pelanggannya semakin banyak. Jumlah pegawainya juga sudah lebih dari lima orang di kedua bengkelnya.

“Jika kita berusaha keras dan memiliki niat baik, semuanya pasti akan ada jalannya,” kata Tukijan.