EQUITYWORLD FUTURES – Ahmad Khoirul Hadi lahir sebagai anak desa dari keluarga sederhana. Sejak kecil bocah 15 tahun ini bermimpi bisa bermain mobil tamiya ala film kartun Jepang, Dash Yonkuro. Tapi apalah daya, dia hanya anak seorang tukang ojek dan pedagang ikan di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Hingga pada suatu hari, bocah tinggi kurus ini menginjak kelas VI sekolah dasar (SD) dan mendapat mobil tamiya bekas dari salah satu keluarganya. Mobil mainan rusak inilah yang kemudian menjadi hiburannya setiap hari.

Ahmad mengutak-atik mainan butut itu agar bisa kembali berfungsi seperti semula, melaju di atas lintasan dengan kecepatan maksimal. “Sejak itu saya mulai suka mengutak-atik tamiya, biar bisa melaju kencang di atas track,” kata Ahmad saat akan memulai mengasah skill-nya di rumah guru ekstrakulikuler elektroniknya, yang masih satu desa dengannya, Kamis (11/12) lalu.

Menginjak kelas VII di Madrasah Tsanawiyah (MTs/sederajat SMP) Tarbiyatul Wathon di Tahun 2012, tangan dingin AM Muhklis Indrawan, akrab disapa Wawan, memolesnya menjadi pembuat robot elektronik andal.

Saat itu, Wawan yang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengambil jurusan elektro sejak tahun 2008, belum menuntaskan kuliahnya. Sambil menjalani kuliahnya di Surabaya, Wawan pulang seminggu sekali ke desanya dan mengajar murid-murid sekolah di Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyatul Waton.

Wawan bisa mengajar dan menjadi guru bantu atas ide guru MTs Tarbiyatul Waton, Mohammad Lazim, yang meminta yayasan agar menambah ekstrakulikuler di bidang elektro bagi siswanya. Wawan yang mahasiswa elektro tersebut lantas diminta membantu memoles murid-murid MTs di desanya tersebut.

Bahkan sejak lulus kuliah pada 2013 lalu hingga sekarang, konsentrasi Wawan agar murid-muridnya handal di bidang mesin robot, tidak berkurang. “Butuh tiga tahun saya memoles dan menemukan anak-anak berbakat di bidang robotika. Hasilnya, tiga anak ini yang akan berangkat ke Singapura, Januari nanti,” kata Wawan bangga.

Setelah menemukan talenta luar biasa dalam diri Ahmad, di tahun 2013, Wawan menemukan bakat sama dalam diri Nabil Al Annisi, yang baru masuk MTs. Nabil yang bapaknya seorang sopir lepas, juga hobby bermain mobil-mobilan. Setelah Nabil diperkenalkan dengan mesin robot, ia pun menyukainya.

Pada tahun 2014, Wawan kembali menemukan talenta luar biasa dari anak seorang nelayan, Mohammad Harris Riqin yang baru masuk MTs. “Ketiganya sama-sama hobby utak-atik tamiya. Jadi malah makin mudah mengarahkannya ke mesin robot,” ucap Wawan.

Sedangkan Harris sendiri, kedua orang tuanya, Harto dan Isfandin, sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan di laut dan tidak bisa memberi kemewahan kepada anak-anaknya. Kebutuhan sandang, pangan dan pendidikanlah yang diutamakan Harto dan Isfanudin untuk anak-anaknya.

Sementara Harris yang memang lahir dan hidup satu desa dengan Ahmad dan Nabil, berkumpul dan bermain tamiya bersama-sama setiap hari. Bahkan, mereka menjadi satu tim tangguh di sekolahnya, meski beda tingkatan kelasnya.

November lalu, berkat tangan dingin Wawan dan bimbingan Mohammad Lazin, ketiga anak desa ini menjuarai kompetisi robot tingkat nasional di kompetisi robot se Jawa dan Bali di Jember Line Tracer IV yang digelar Universitas Jember dan kompetisi Robot Elite Competition 2 (Reco 2) di Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung.

Selanjutnya, ketiganya diundang di lomba robot internasional yang akan digelar di Tay Eng Soon Convention Centre, ITE Headquarters, Singapura pada 28 hingga 30 Januari.