EQUITYWORLD FUTURES – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan banyak belajar dari waktu sebelumnya terkait dengan kualitas pembangkit listrik yang dibangun oleh berbagai perusahaan asal China.

Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir mengatakan kalaupun perusahaan China yang terpilih sebagai kontraktor pelaksana EPC (engineering, procurement and construction) pembangkit listrik  PLN, perusahaan tersebut haruslah berskala besar dan memiliki reputasi yang baik.

Sementara itu untuk pembangkit listrik swasta, PLN mensyaratkan harus perusahaan dari Eropa, Jepang dan AS.

“Perusahaan abal-abal, seperti bengkel yang ada di China nggak boleh ikut-ikutan proyek ini. Kami akui, tidak ingin masa lalu terulang pada proyek kelistrikan 35.000 MW ini,” ujarnya Kamis (12/5/2016).

Dia menyebut juga, kontraktor yang terlibat dalam proyek ini disyaratkan harus memiliki modal yang mencukupi, agar kontrak proyek tidak diperjualbelikan.

“Minimal Rp 4 triliun mereka punya dana, sehingga mereka yang menjalankan proyek ini benar-benar perusahaan yang besar dan serius,” kata Sofyan.

Dia mengakui, bahwa PLN belajar banyak dari kejadian di masa lalu, di mana banyak pembangkit listrik yang bermasalah lantaran kualitas pekerjaan tidak memadai.

Kebanyakan, pembangkit listrik yang bermasalah itu dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan asal China.

Pemerintah sebelumnya menyatakan tetap melanjutkan komitmen menjalankan proyek kelistrikan 35.000 mega Watt (MW), meskipun kondisi perekonomian Indonesia sedang melambat.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi bertumbuhnya permintaan listrik di masyarakat.