EQUITYWORLD FUTURES – Langkah Koalisi Indonesia Hebat membentuk pimpinan DPR tandingan dinilai tidak tepat. Seharusnya, koalisi yang dimotori Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini dapat bermain lebih cantik untuk mewujudkan tujuan politik mereka.

“(Seharusnya mereka) memainkan psikologi masyarakat dengan membentuk opini bahwa Koalisi Merah Putih serakah, enggak punya niat mengelola bangsa bersama-sama,” kata psikolog politik Hamdi Muluk, kepada Kompas.com, Rabu (29/10/2014).

Menurut Hamdi, keengganan Koalisi Merah Putih berbagi kursi pimpinan alat kelengkapan Dewan dengan Koalisi Indonesia Hebat menjadi celah untuk koalisi pemenang pemilu ini untuk menarik simpati masyarakat.

Hamdi berpendapat, Presiden Joko Widodo–kader PDI-P– telah cukup baik memainkan psikologi masyarakat. Sayangnya, kata dia, hal serupa tak dilakukan di parlemen oleh para politisi dari partai-partai pengusungnya dalam Koalisi Indonesia Hebat.

“Daripada mau ngelawan tapi malah tidak bisa karena mekanisme (UU MD3) tidak bisa dimenangkan, KIH sebaiknya memainkan psikologi publik untuk menekan dan mencari simpati untuk mendapat dukungan,” ujar dia.

Hamdi menyayangkan sikap Koalisi Indonesia Hebat yang malah membentuk pimpinan tandingan DPR. Pasalnya, kata dia, pimpinan versi KIH itu tetap tak akan diakui lantaran mayoritas isi parlemen adalah politisi dari Koalisi Merah Putih. “Siapa yang mau mengakui KIH itu kalau yang mayoritas KMP? Kalau Anda tidak dominan bagaimana anda dapat meyakinkan mereka?”