EQUITYWORLD FUTURES – Minggu lalu penggemar sepakbola dikagetkan dengan pencapaian Leicester City menjadi kampiun British Premier League alias juara kompetisi Liga Inggris. Siapa sangka, bukan klub yang langganan juara ternyata bisa jadi raja musim ini. Bahkan mengubur asa  Manchester City, Chelsea atau Manchester United yang memiliki dana cukup besar.

Fenomena dalam sepakbola ini mungkin akan sulit terjadi di dunia Formula 1. Meskipun ada tim yang fenomenal, juara pebalap dan konstruktor di musim pertama lalu menghilang di musim berikutnya.

Tim F1 yang saya maksud adalah Brawn GP di musim balap 2009. Mereka berhasil mencatatkan prestasi sebagai juara dunia konstruktor dan Jenson Button sebagai juara dunia.

Brawn GP dimiliki oleh Ross James Brawn OBE, nama yang tidak asing lagi di ajang F1, karena pernah membawa Ferrari di puncak kejayaan di masa 2000 – 2004. Dia membeli tim  dari Honda F1 Racing Team dengan harga simbolis 1 (satu) poundsterling. Hal tersebut terjadi karena Honda menarik diri dari ajang balap F1 akibat krisis ekonomi global.

Posisi Brawn sebagai team principal di Honda sangat memudahkan proses pengambilalihan dan pengembangan selanjutnya. Apalagi setelah Nobert Haug yang saat itu menjadi petinggi Mercedes-Benz Motorsport berjabat tangan dengan Ross Brawn untuk urusan suplai mesin.

Selanjutnya kata “perjudian” menjadi hal yang paling tepat untuk menggambarkan situasi yang berkembang saat itu.

Skenario

Perjudian pertama berhubungan dengan bisnis, bukan tidak mungkin proses jabat tangan dengan Mercedes-Benz sudah diskenariokan sebelumnya. Masa bulan madu McLaren dengan Mercedes-Benz terusik oleh niat McLaren mengembangkan mobil jenis roadster yang akhirnya melahirkan Mclaren MP4-12C.

Apa buktinya? Desain akhir mobil tersebut pertama kali diperkenalkan September 2009 meski produksi dimulai 2011. Sudah barang tentu kasak kusuk terjadi sebelumnya, tepat sebelum pengambilalihan Honda oleh Ross Brawn.

Mercedes merasa bahwa road car adalah kompetensi mereka dan meminta McLaren untuk fokus di balapan. Tuntutan tersebut dianggap wajar jika merujuk saham yang dimiliki Mercedes-Benz di McLaren sejak tahun 2000 adalah 40 persen. Ross Brawn “bermain judi” dengan sangat cantik untuk memadukan kedua momen tersebut, ketidakmampuan Honda dan kebutuhan Mercedes-Benz.

Teknis

Perjudian kedua adalah soal teknis, tepatnya mengenai paket aerodinamik yang dikembangkan oleh Brawn GP. Menafsirkan regulasi saya gambarkan seperti cerita antara penegak hukum dengan penjahat.

Artinya siapa yang lebih cerdik merekalah yang menang. Penegak hukum akan selalu mengupayakan menjaga dan mengawal sebuah aturan sesuai dengan kaidah. Sedangkan penjahat selalu berpikir mencari celah untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin.

motorsport.com Desain rear diffuser Brawn GP yang sensasional

Brawn GP meskipun bukan penjahat tetapi bisa memanfaatkan celah yang dibuat regulator F1, Fédération Internationale de l’Automobile (FIA). Celah regulasi yang dimaksud adalah rear diffuser.

Gaya tekan

Komponen tersebut bertujuan untuk “merapikan” aliran udara di bawah mobil F1 dengan tujuan mendapatkan gaya tekan (downforce) yang optimal. Tujuan utama aerodinamik di mobil balap ada 2, downforce dan stabilitas di tikungan. Nah, rear diffuser ini menyumbang 50 persen dari downforce.

Tim-tim papan atas mengajukan keberatan atas penggunaan double diffuser Brawn GP sebelum musim berlangsung. FIA akhirnya menyatakan bahwa perangkat tersebut dinyatakan legal di akhir April 2009. Perjudian kedua Brawn berakhir cantik dengan mendominasi separuh musim awal.

Meskipun Redbull Racing, McLaren dan Ferrari bergantian menguasai setengah musim selanjutnya tapi tidak mampu membendung perolehan nilai Brawn GP hingga mereka mengunci gelar juara yang saat itu berlangsung selama 17 seri.

Hal yang menarik dalam kasus di atas adalah tidak serta merta sebuah teknologi bisa diaplikasikan langsung ke desain mobil F1 karena perbedaan filosofi. Tim lain memerlukan 3 bulan hingga 4 bulan sebelum memperoleh hasil positif.

Perjudian

Itulah kenapa saya berkesimpulan bahwa kejutan Leicester City sulit sekali dilakukan di kompetisi Formula 1 kecuali dengan “perjudian”.

twitter.com/ManorRacing Rio Haryanto mengganti ban

Di musim 2016 ini saya belum melihat ada celah teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk perjudian. Kendati demikian, strategi pitstop dan pemilihan ban merupakan perjudian kecil yang menarik untuk dilakukan. Selain itu turunnya Hujan atau munculnya safety car dengan sebab apapun.

Pada posisi saat ini Manor F1 Team harus berani untuk melakukan perjudian-perjudian kecil. Contoh, memakai strategi ban dengan durability lebih lama di stint awal GP Spanyol di Catalunya akhir minggu ini. Karakter sirkuit tersebut secara teori kurang menguntungkan Manor.