EQUITYWORLD FUTURES – Lafia Azahra (15), siswi kelas IX SMP Al Furqon, Kecamatan Alang-alang Lebar, Kota Palembang, meluapkan kekesalannya terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Kabut asap akibat pembakaran berdampak pada kegiatan belajar mengajar di Palembang, Sumatera Selatan, serta provinsi lain di Sumatera dan Kalimantan. Kondisi ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Lafia mengungkapkan kekesalannya di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, yang melakukan kunjungan ke Palembang dan Jambi selama dua hari, Senin (26/10/2015) dan Selasa (27/10/2015). Sekolah Lafia menjadi sekolah pertama yang dikunjungi Anies.

“Kami kan di sini belajar. Lalu apa pemikiran perusahaan-perusahaan yang membakar lahan itu ya? Mereka memikirkan diri sendiri dengan membakar, membuat lahan baru, untuk kesenangan mereka sendiri. Sementara kami bernapas saja sulit,” ujar Lafia dengan suara lantang.

“Saya kepingin pemerintah itu menuntut perusahaan-perusahaan itu, baik luar atau dalam negeri. Karena menurut saya, mereka itu hanya untuk kesenangan diri sendiri saja, demi sawit yang mereka tanam. Sementara anak bangsa yang ingin membangun bangsa ini tidak dihiraukan,” lanjut dia.

Lafia juga meminta aparat penegak hukum tidak main-main dalam menindak perusahaan tersebut.

“Jangan cuma masuk televisi beberapa hari, lalu hilang enggak diproses-proses,” ujar dia.

Mendengar keluh kesah Lafia, Anies hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memaklumi jika para siswa mulai terganggu dengan kabut asap yang semakin pekat.

“Itu tadi ungkapan kemarahan anak-anak terhadap perusahaan itu. Ya bagaimana tidak marah, asapnya merugikan mereka,” ujar Anies.

Tak pengaruhi nilai

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, ada tujuh dari 17 kabupaten di Sumsel yang terkena dampak asap. Di tujuh kabupatten itu, terdapat 2.464 SD, 21 SLB, 756 SMP, 250 SMA dan 140 SMK.

Kabut asap yang terjadi pada tahun ini dinilai paling buruk dalam 18 tahun terakhir.

“Asap kali ini paling parah memang,” ujar Arya (12), siswa Kelas VII SMP Al Furqon.

Kegiatan belajar mengajar pun terganggu, karena diliburkan atau para siswa dipulangkan lebih cepat. Dalam kondisi demikian pula, Arya dan rekan-rekannya harus menyelesaikan ujian mid semester, pekan lalu. Beruntung, asap tak membuat nilainya anjlok.

Hal senada disampaikan Mahesa (14), siswa Kelas IX SMP yang sama. Jika tahun-tahun sebelumnya asap hanya beberapa hari saja masuk ke ruang kelas dan mengganggu aktivitas belajar mengajar, tahun ini kondisi itu terjadi setiap hari.

“Yang paling mengganggu itu kalau olah raga. Kita kan pasti ngos-ngosan. Nah di situ kita merasa sering sesak,” ujar dia.

Nilai ujian Mahesan pun cukup baik dengan rata-rata mencapai 90, meskipun banyak libur dan pulang cepat gara-gara asap.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Provinsi Sumatera Selatan Nurlina mengatakan, kabut asap di wilayahnya memang tidak menentu. Aktivitas belajar pun menjadi tidak menentu. Namun, Dinas Pendidikan sudah memberikan kewenangan kepada setiap kepala sekolah untuk memutuskan kegiatan belajar didasarkan pada kondisi kabut asap.

“Jika kepala sekolah melihat asap tebal, mereka berhak meliburkan anak-anak. Mereka juga berhak memulangkan cepat atau memasukkan murid lebih siang. Itu kebijakan kami,” ujar dia.

Selain itu, pihaknya juga meminta kepala sekolah menyediakan masker gratis bagi para siswa. Akan tetapi, banyak sekolah yang mematuhi instruksi ini.

“Ya begitulah keadaanya,” katanya.

Sekolah antiasap

Anies Baswedan mengatakan, kabut asap adalah bencana yang dampak negatifnya bisa dihindari. Dia berencana menjadikan sekolah-sekolah di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan menjadi sekolah antiasap. Catatan Kementerian Pendidikan menunjukkan, ada 25.000 sekolah atau 170.000 ruang kelas di Indonesia yang didera kabut asap, mulai dari level rendah hingga pekat.

Setidaknya, sudah 35 hari para siswa tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar karena diliburkan.

“Kami berencana menjadikan sekolah-sekolah itu aman dari asap. Karena enggak mungkin siswa-siswi libur terus menerus,” ujar Anies.

Dengan kunjungan selama dua hari di Palembang dan Jambi, Anies mengatakan, ia ingin melihat apakah ide tersebut memungkinkan dilaksanakan atau tidak. Dalam waktu dekat, Kementerian Pendidikan juga akan berkomunikasi dengan 100 kepala sekolah di Padang, Sumatera Barat.

Ke depannya, akan ada uji coba teknologi ventilasi ruang kelas sebagai bentuk sekolah antiasap.

“Teknologi itu dari dalam negeri. Tapi itu baru uji coba. Kami masih kaji terus menerus. Masak hotel, kantor saja bisa, ruang kelas enggak bisa?” ujar Anies.