EQUITYWORLD FUTURES – Bagaimana rasanya mendiami rumah dengan bilik-bilik bersejarah. Rumah yang menjadi salah satu tonggak proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Djiauw Kwin Koy (62) merasa hidupnya bersandar pada bilik sejarah itu.

Udara panas menyergap kawasan Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Namun, segera berganti udara sejuk ketika kami memasuki halaman rumah bercat hijau dan putih di Dusun Kalijaya I. Kesejukan itu bersumber dari pohon mangga, dan pohon jambu air yang tumbuh rindang di halaman. Daunnya yang begitu rimbun meneduhi rumah.

Kesejukan itu pula yang ”menyirep” Thung Gie Hiang (63) sehingga ia tertidur di atas dipan bambu di teras rumah. ”Yayang, bangun. Ada tamu,” kata Djiauw Kwin Moy (62), istri Hiang, setengah berteriak dari dalam kios yang hanya berjarak lima meter dari dipan itu. Hiang, yang tidak benar-benar tidur itu, tergagap lalu memasang senyum yang agak dipaksakan dengan mata mengejap-ejap.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Kamar tidur yang pernah digunakan Soekarno dan putranya, Guntur, selama diculik di Rengasdengklok.

Djiauw Kwin Moy atau Iin merupakan cucu dari Djiauw Kie Siong, pemilik rumah tempat Soekarno dan Hatta disembunyikan Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh dan para tentara Pembela Tanah Air (Peta) lainnya dalam peristiwa Rengasdengklok. Rumah bersejarah. ”Itulah yang membuat saya bersyukur karena kakek saya meninggalkan rumah bersejarah ini,” kata Iin.