Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengungkapkan, nilai tukar rupiah yang sempat anjlok hingga ke level 12.000 masih sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

“Saya lihat kemarin masih ada di Rp 11.900 per dollar AS. Kalau seandainya ada satu dinamika nilai tukar, itu masih sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia,” ujar Agus di Jakarta, Jumat (19/9/2014).

Agus menekankan agar masyarakat tetap tenang menyingkapi hal ini. Pasalnya, pelemahan tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di regional secara umum. Hal ini, menurut Agus, juga didorong oleh kondisi di luar negeri.

“Kita juga tahu kondisi di luar negeri, kemarin sudah ada FOMC Meeting, antara lain hasilnya di situ dinyatakan bahwa Amerika masih akan mempertahankan tingkat bunga. Tapi di situ juga disampaikan, proyeksi kondisi ekonomi Amerika memperkirakan tingkat bunga Fed Fund Rate itu akan sedikit berubah di akhir tahun 2015 yang tadinya di 1,125 sudah mulai meningkat jadi 1,375,” imbuhnya.

Agus mengakui, kemungkinan perubahan suku bunga Federal Reserve disikapi secara berbeda oleh berbagai negara. Itu dilakukan antara lain dengan mengurangi portfolionya, dari yang jangka panjang menjadi ke pendek dan berdampak pada dunia.

“Kita menyaksikan bahwa terjadi pelemahan di regional. Kalau hal itu terjadi di Indonesia, itu sesuatu yang wajar. Saya ingin sampaikan bahwa kondisi yang berkembang di dunia sudah kita antisipasi dari enam bulan sebelum ini. Kalau kita masuk di situ, kami ingin bahwa kita tetap tenang karena ini satu kondisi yang banyak dipengaruhi kondisi dunia,” pungkas Agus.