EQUITYWORLD FUTURES – Berawal dari keprihatinan akan semakin tuanya usia bumi serta kerusakan alam, empat siswa SMA Negeri 10 Yogyakarta menciptakan game bernama “Sewidak”.

Permainan berhasil menjadi juara dalam program Microsoft Youth Spark tahun 2016 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Salah satu siswa penciptanya, Hanif Bayu Ismail, mengatakan bahwa awalnya sekolah mengumumkan kepada para siswa tentang program Microsoft Youth Spark yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa Foundation.

“Saat itu kami mengajukan diri untuk ikut. Dari sekolah ini ada dua tim yang mendaftar,” ujar Hanif saat ditemui Kompas.com di SMAN 10 Yogyakarta, Kamis (28/07/2016).

Awal Juni 2016, tim yang terdiri dari Hanif, Dino Satria Siambodo, Muhammad Iksan, dan Lintang Pertiwi mencari ide untuk menentukan tema game yang akan mereka ciptakan.

Mereka bersepakat membuat game edukasi dengan tema mengajak melestarikan alam dan lingkungan. Genre permainan ituaction shooting.

“Saat ini kan usia bumi sudah tua, lalu banyak alam yang rusak. Kami terinspirasi untuk membuat game-nya,” kata Hanif.

Mereka menamai game itu dengan dari filosofi Jawa, “Sewidak”, yang artinya 60. Nama itu merupakan akronim dari Sejatining Wis Tindak (Sebenarnya Sudah Pergi).

“Manusia di umur 60 itu sudah waktunya atau menjelang meninggalkan Bumi. Agar generasi selanjutnya tetap bisa hidup di Bumi, maka setiap manusia harus peduli dan menjaga alam,” tuturnya.

Setelah menemukan tema dan nama, para siswa itu membuat program permainan yang dalam waktu satu pekan. Kendala terbesar dalam proses membuat program ini adalah sering terjaditrial error.

EQUITYWORLD FUTURES : “Sebenarnya tiga hari bisa jadi. Tapi ada trial error-nya, jadi seminggu baru selesai,” ucapnya.

Game Sewidak ini menceritakan kondisi di mana manusia sudah tidak peduli lagi dengan alam dan lingkungan. Mau tidak mau, manusia harus meninggalkan Bumi karena tidak layak lagi dihuni akibat pekatnya polusi udara. Maka dimulailah petualangan mencari planet lain sebagai tempat tinggal.

Pada saat itulah terdapat satu perusahaan robot bernama Lurik. Robot yang diciptakan oleh suatu perusahaan ini memiliki kecerdasan dan logika layaknya manusia. Tiga karakter robot digame “Sewidak” ini bernama Myrna, Budi, dan Joko.

“Robot yang pro ini ingin membantu manusia untuk mendapatkan tempat baru. Mereka meyakini bahwa manusia bisa berubah menjadi peduli dengan alam,” kata Hanif.

Bukan hal mudah bagi robot itu untuk membantu manusia menemukan planet tujuan. Ada sekelompok robot musuh yang menghalangi niat itu. Setiap level permainan menggambarkan bagaimana robot mencari planet untuk manusia tinggal.

Jika pemain berhasil mencapai level 5, itu artinya robot yang membantu manusia berhasil menemukan salah satu planet bernama Kepler 168 F. Planet ini dapat menjadi tempat untuk tinggal manusia. Namun, di planet tersebut ternyata dijaga oleh sekelompok robot.

“Kepler 168 F ini benar-benar ada dan kita masukkan ke dalamgame. Di level 5 pemain harus berusaha merebut planet dari para robot penjaga,” ujar Hanif.

Melalui permainan ini, Hanif dan kawan-kawan satu timnya ingin mengajak manusia untuk peduli akan alam dan lingkungan. Bumi yang usianya sudah tidak muda lagi harus tetap lestari agar bisa dihuni oleh manusia.

“Kita ingin mengampanyekan untuk mari bersama-sama peduli melestarikan alam dan lingkungan. Kalau tidak, ya mungkin kejadiannya akan seperti di game ini,” kata dia.

Di Microsoft Youth Spark, Hanif dan kawan-kawannya bersaing dengan ratusan peserta. Para peserta kemudian disaring menjadi 10 besar dan keluarlah “Sewidak” sebagai pemenang.

“Ke depan kita berencana untuk membuat game edukasi lagi,” kata Hanif. – Equity world Futures