EQUITYWORLD FUTURES – Celso Santebañes (21), seorang pria muda asal Brasil, selama ini memiliki nama panggilan unik, yaitu “Boneka Ken Versi Manusia”. Namun, berita duka baru saja datang dari pemilik nama panggilan unik tersebut. Menurut laporan Yahoo! Brasil, Santebañes meninggal dunia setelah melawan penyakit leukemia yang dideritanya selama lima bulan.

Sebelumnya, Santebañes menjadi sorotan media lantaran menghabiskan dana ribuan dollar AS atau ratusan juta rupiah untuk menjalani operasi plastik. Serangkaian operasi plastik tersebut dijalani Santebañes demi mengubah penampilan dan dirinya untuk menjadi versi hidup dari kekasih boneka Barbie tersebut, Ken.

Santebañes meninggal dunia karena terserang pneumonia bakterial menyusul perjuangannya dalam melawan kanker darah langka. Ia dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (4/6/2015) lalu, di Federal University of Uberlândia Clinical Hospital di Brasil. Menurut Latin Times, di rumah sakit itu pula Santebañes menjalani rangkaian kemoterapi terakhir kalinya.

Santebañes pertama kali mengetahui dirinya mengidap kanker setelah mengunjungi rumah sakit untuk mengobati infeksi yang disebabkan filler hidrogen yang sebelumnya disuntikkan ke kakinya. Ia mulai menjalani beragam operasi plastik untuk menjadi serupa Ken setelah memenangkan kontes modeling saat usianya 16 tahun.

Tidak tanggung-tanggung, Santebañes menjalani empat kali operasi guna mengubah bentuk hidung, dagu, dan rahangnya. Dirinya pun memasang implan di dadanya. Berdasarkan laporan The Mirror, Santebañes dikabarkan Santebañes merogoh kocek sekitar 16.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 211 juta untuk mengubah penampilannya agar mirip dengan boneka Ken.

Pada bulan Januari 2015 lalu, Santebañes meluncurkan produk bonekanya sendiri yang diberi nama Celso di Los Angeles, Amerika Serikat sebelum akhirnya jatuh sakit. Ia pertama kali membagikan kabar buruk tentang diagnosa penyakitnya melalui akun Instagram. Kala itu, ia mengunggah foto tangannya yang ditusuk jarum infus.

“Saya menangis, saya melihat dunia saya runtuh. Saya tidak ingin orang lain mengasihani saya, berdoa saja untuk saya,” tulis Santebañes dalam keterangan foto pada akun Instagram pribadinya tersebut.

Beberapa bulan sebelum wafat, Santebañes mengaku sudah tidak lagi memperhatikan penampilannya. Sebaliknya, ia memilih untuk memfokuskan diri pada kesehatannya. Ia pun mengaku mulai merasakan efek-efek setelah menjalani kemoterapi, seperti kerontokan rambut.

“Saya tidak lagi memperhatikan masalah estetika. Bagi saya itu bukan masalah. Yang paling penting saat ini adalah kesehatan saya dan saya akan memperjuangkannya,” ujar Santebañes.