EQUITYWORLD FUTURES – KEKAYAAN alam Papua belum didukung sumber daya manusia yang memadai untuk pengelolaannya. Bram Maruanaya pun menjawab tantangan itu.

Selama empat tahun terakhir, ia melatih ratusan warga di Kampung Kwatisore, Kabupaten Nabire, agar mampu mengembangkan bisnis pariwisata bahari, sekaligus menjadi tenaga konservasi di Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Senin, 25 Mei 2015, sekitar pukul 08.00, di pantai penginapan Kali Lemon Resort, Bram bersama Daud Yamban, warga Kwatisore, telah menyiapkan sejumlah peralatan menyelam di sebuah kapal cepat.

Kapal berkapasitas 10 tempat duduk itu merupakan salah satu fasilitas di Kali Lemon Resort. Awalnya, Kali Lemon hanya sebuah pulau kecil yang ditumbuhi banyak pepohonan.

Bersama warga setempat yang menghuni Pulau Kwatisore, Bram mengubah tempat itu menjadi salah satu pondok wisata, yang beroperasi sejak November 2011.

Sekitar 15 menit kemudian, kapal cepat yang mengangkut Kompas bersama dua orang dari World Wide Fund for Nature Region Papua berangkat untuk memantau aktivitas hiu paus di salah satu bagan milik Kali Lemon Resort di perairan Kwatisore.

Perairan itu termasuk bagian dari Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang luasnya mencapai 1,4 juta hektar. Kawasan itu meliputi dua kabupaten, yakni Teluk Wondama dan Nabire.

Ketika tiba di bagan, terlihat lima hiu paus dengan panjang sekitar 9 meter sedang menikmati makanan ikan berukuran kecil yang diberikan nelayan di bagan itu.

Bram dan Daud langsung menyelam di antara kumpulan hiu paus di laut dengan kedalaman mencapai 30 meter.

Hiu paus merupakan hewan yang sangat jinak. Tak heran satwa mamalia ini dijuluki hiu bodoh karena sama sekali tak menyakiti manusia yang mendekatinya.

Mereka pun mengambil data identitas hiu paus yang singgah di bagan.

Setelah hasil pemantauan selama sejam, pria berusia 50 tahun itu langsung memerintahkan Daud segera menyusun laporan monitor dan mengirimkannya ke Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan WWF.

Total masih tersisa 122 hiu paus yang terlihat di perairan itu hingga tahun ini.

Itulah aktivitas sehari-hari Daud, warga Kwatisore binaan Bram. Lima tahun lalu, Daud hanyalah pemuda kampung biasa yang menganggur.

Namun, berkat tangan dingin Bram, Daud berhasil menjadi salah satu tenaga ahli penyelam di Kali Lemon Resort yang memonitor keberadaan ikan hiu di Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Latihan kerja

Kali Lemon Resort merupakan wujud nyata keberhasilan Bram dalam melatih warga Pulau Kwatisore dalam mengembangkan pariwisata bahari

Perjalanan dari Kali Lemon Resort ke Kwatisore hanya 10 menit dengan menggunakan kapal cepat. Penduduk di wilayah itu berjumlah 75 keluarga.

Sebanyak 20 pekerja di Kali Lemon adalah warga lokal dari Kwatisore. Bagi Bram, Kali Lemon bukanlah tempat penginapan biasa yang menawarkan jasa berenang bersama hiu paus.

Tempat ini juga merupakan bengkel kerja yang memberikan keterampilan bagi masyarakat setempat.

”Ketika melihat banyaknya kunjungan wisatawan asing ke Kali Lemon Resort, saya pun berinisiatif mengajarkan menu masakan terbaru kepada warga yang bertugas sebagai juru masak. Namun, biasanya turis lebih menyukai ikan bakar buatan koki kami,” tuturnya sambil tertawa.

Selain pelatihan tentang pengelolaan resor, Bram juga mendatangkan tenaga ahli penyelam dari Jakarta untuk melatih sejumlah pemuda menjadi pemandu selam dan tenaga monitor hiu paus.

Untuk peralatan selamnya, ia mendapat bantuan dana dan peralatan dari tamu resor.

”Saat ini kami telah memiliki dua tenaga yang menyandang predikat dive master,” ujar ayah dua anak ini.

Penyelam lokal tak hanya bertugas memandu turis menikmati keindahan bawah laut di perairan Kwatisore yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Bram bersama dua penyelamnya juga bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan WWF Papua sebagai relawan untuk konservasi perairan Kwatisore.

Ada sembilan warga kampung yang dilatih Bram bersama WWF Papua.

Mereka melindungi perairan itu dari aksi nelayan asing yang mencuri ikan dengan menggunakan bahan peledak. Kegiatan tersebut dapat merusak habitat hiu paus.

”Rusaknya perairan Kwatisore dapat mengurangi jumlah ikan. Akibatnya, hiu paus jarang muncul di Kwatisore. Hal ini tentunya dapat berpengaruh pada jumlah kunjungan wisatawan ke sini,” lanjut Bram.

Tak berubah

Tahun 1977, Bram bersama kedua orangtuanya datang ke Kwatisore. Saat itu ia melihat warga di sana amat miskin dan infrastruktur pendidikan juga minim.

Kondisinya tidak banyak berubah ketika tahun 2000 Bram kembali mengunjungi Kwatisore. Padahal, potensi kekayaan laut dan pariwisata daerah tersebut sangat besar.

Kondisi ini terus mengganggu pikiran Bram. Sekitar 11 tahun kemudian, Bram pun melakukan perubahan besar di tempat itu, yang diawali dengan pembangunan Kali Lemon Resort.

Dua tahun terakhir, Bram mempekerjakan dua kelompok tani yang beranggotakan 16 orang untuk menanam aneka sayuran, seperti sawi, kangkung, terung, tomat, dan cabai, di Kwatisore.

Bram mendatangkan benih tanaman itu dari Nabire. Setelah panen, Bram membeli panenan itu untuk pasokan bahan makanan di Kali Lemon Resort.

Upaya Bram yang terakhir adalah membantu 15 kepala keluarga memasarkan hasil kerajinan tangan berupa ukiran kayu dan anyaman.

Ia membuka galeri khusus di samping resor yang diperuntukkan bagi warga untuk menjual hasil kerajinannya.

Salah satu kerajinan tangan yang khas adalah miniatur paus yang terbuat dari kayu.

Selain itu, pria yang berprofesi sebagai pengusaha mebel dan jasa transportasi laut ini menggaji dua guru untuk mengajar anak-anak di Kwatisore.

Ia pun memberikan bantuan dana bagi mahasiswa asli Kwatisore yang hendak melaksanakan praktik kerja lapangan di luar Papua serta menyusun proposal penelitian dan skripsi.

Saat ini jumlah sarjana yang berasal dari Kwatisore baru dua orang. Salah satu sarjana direkrut Bram sebagai tenaga guru bantu.

Tanpa bantuan pemerintah, Bram juga berhasil membangun perpustakaan di daerah itu. Perpustakaan yang dibangun selama dua tahun ini dibiayai dari hasil pemasukan resor dan bantuan donatur.