EQUITYWORLD FUTURES – Kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur sudah bukan menjadi hal aneh di negeri ini. Bahkan, yang lebih memalukan ketika pelakunya ialah pejabat yang banyak disegani oleh masyarakat. Bukan menjadi peristiwa yang baru seorang pejabat daerah terlibat dalam kasus pencabulan ataupun human trafficking.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ditangkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, karena telah mencabuli anak di bawah umur yang telah dia pesan dari seorang mucikari.

Kejadian itu terjadi setelah polisi terlebih dulu menangkap mucikari yang menjual anak di bawah umur kepada sejumlah pria hidung belang. Dan salah satu pria itu adalah Kepala BPBD Sampang, Wisnu Hartono.

Lalu, bagaimana cerita ketua BPBD Sampang beli ABG di bawah umur dari 4 mucikari? Berikut rangkumannya:

1. Cabuli anak di bawah umur, Ketua BPBD Sampang diamankan polisi

Cabuli anak di bawa umur, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Wisnu Hartono diamankan anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta mengatakan, penangkapan salah satu pejabat negara itu, dilakukan pada hari Sabtu malam (20/12).

“Saat ini, si pejabat sudah kita amankan dan kita tahan. Dia kita jerat dengan Pasal 12 Undang-Undang Trafficking, karena melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Sedangkan untuk para mucikari kita jerat dengan Pasal 17 Undang-Undang Trafficking,” kata Setija di Mapolrestabes Surabaya, Senin (22/12).

Kronologis kejadian itu sendiri, bermula ketika korban berinisial LL alias AJ (15), asal Lamongan dikenalkan oleh Ratna, warga Lamongan, yang saat ini ditetapkan sebagai DPO alias buron, kepada tersangka Via.

Via adalah pegawai Rasa Sayang Lamongan. “Kemudian oleh tersangka Via bersama pacarnya, tersangka Hadi, korban dikenalkan ke lelaki hidung belang satu ke hidung belang lainnya. Jadi setelah dijual oleh tersangka Via, korban ditampung oleh tersangka Nuri di Surabaya selama tiga minggu. Tersangka ini, memang suka dugem bersama pacarnya, yaitu Syaiful di salah satu diskotek di Surabaya,” papar Setija.

Di Surabaya, korban dijual lagi ke lelaki hidung belang, salah satunya pejabat di Sampang, yang diketahui sebagai Kepala BPBD setempat. “Tersangka dijual antara Rp 1 sampai 2 juta rupiah. Para tersangka sendiri, tidak menerima imbalan dari uang itu, hanya oleh korban diajak belanja di mal, makan-minum, dan dibelikan handphone, serta diajak dugem,” ungkap perwira dengan tiga melati di pundak ini.

2. Ketua BPBD Sampang, booking ABG dari mucikari

Tiga minggu tinggal di Surabaya, Jawa Timur, LL alias AJ (15), asal Lamongan dipaksa melayani pria hidung belang oleh pasangan mucikari, yaitu Nuri (29), asal Sampang, Madura yang tinggal Surabaya dan Syaiful (30), asal Sampang.

Di Surabaya, LL sudah melayani empat pria hidung belang, yang salah satunya diketahui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Wisnu Hartono. Wisnu, ditangkap polisi pada Sabtu malam (20/12) dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Memang kami menangkap salah satu pejabat di Madura, berinisial W. Penangkapan si pejabat ini, ada kaitannya dengan empat mucikari yang kami tangkap. Si pejabat sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan sudah kita tahan,” terang Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta, Senin sore (22/12).

Sebelum jatuh ke pangkuan Nuri dan Syaiful, LL juga sempat dijual ke lelaki hidung belang oleh Via (22), asal Lamongan dan Hadi alias Ega (29), asal Sampang, Madura. Selama kurun waktu tiga bulan, sejak September lalu, LL dipaksa melayani tiga lelaki dengan banderol Rp 1,5 juta. Untuk kemudian, oleh Via dan Hadi diserahkan ke Nuri dan Syaful.

3. Jual ABG ke pejabat, 4 mucikari berdalih dijebak korban

Tertangkap basah menjual anak di bawah umur ke sejumlah lelaki hidung belang termasuk ke ketua BPBD Sampang empat mucikari berdalih tidak pernah menjual korbannya ke siapapun demi keuntungan pribadi. Bahkan, mereka mengaku tidak pernah mendapat keuntungan sepeser pun dari aksi trafficking tersebut. Mereka menjajakan korban ke pria nakal mulai dari Lamongan, Surabaya dan Madura, Jawa Timur,

Nuri (29), asal Sampang, Madura, tinggal di Surabaya mengaku, dia mengenal korban berinisial LL alias AJ (15), asal Lamongan, dari rekannya Via (22), warga Lamongan yang bekerja di Klub Malam Rasa Sayang Lamongan.

Sejak itu, selama tiga minggu, korban tinggal bersama Nuri di Surabaya. Dan selama itu pula, Nuri bersama pacarnya, Syaiful (30), asal Sampang, Madura, yang sama-sama penghobi dugem, kerap mengajak korban ke tempat hiburan malam.

“Saya tidak pernah menjual, malah saya ini dijebak. Saya kenal ya dikenalin sama teman saya Via. Dia yang kenal. Selama ini dia tinggal sama saya, tidur makan gratis tapi tega jebak saya,” dalih Nuri di Mapolrestabes Surabaya, Senin sore (22/12).

Kemudian, lanjut Nuri, korban mengutarakan maksudnya agar bisa dapat uang. “Dia itu bilang ke saya, pingin dapat uang, nggak enak makan tidur gratis di rumah saya. Dia ingin senang-senang. Malah bilang ke saya: Nggak apa-apa mbak (Nuri) meski saya kamu jual, yang penting saya bisa senang-senang, nggak enak di rumah saja dan saya ingin dapat uang. Bilangnya begitu,” ucap Nuri menirukan kalimat korban.

4. Korban human trafficking dibanderol Rp 1 hingga Rp 2 juta

Diamankannya ketua BPBD Sampang atas kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur terkuak dari tertangkapnya 4 mucikari yang menjual korban ke pejabat tersebut.

Di Surabaya, LL sudah melayani empat pria hidung belang, yang salah satunya diketahui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Wisnu Hartono. Wisnu, ditangkap polisi pada Sabtu malam (20/12) dan sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Memang kami menangkap salah satu pejabat di Madura, berinisial W. Penangkapan si pejabat ini, ada kaitannya dengan empat mucikari yang kami tangkap. Si pejabat sudah kita tetapkan sebagai tersangka dan sudah kita tahan,” terang Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta, Senin sore (22/12).

Sebelum jatuh ke pangkuan Nuri dan Syaiful, LL juga sempat dijual ke lelaki hidung belang oleh Via (22), asal Lamongan dan Hadi alias Ega (29), asal Sampang, Madura. Selama kurun waktu tiga bulan, sejak September lalu, LL dipaksa melayani tiga lelaki dengan banderol Rp 1,5 juta. Untuk kemudian, oleh Via dan Hadi diserahkan ke Nuri dan Syaful.

Selama tiga minggu tinggal bersama Nuri di Surabaya, korban kerap diajak dugem ke salah satu kelab malam yang ada di Kota Pahlawan serta dicekoki dengan barang-barang terlarang (narkoba). Kemudian, korban juga dikenalkan ke beberapa lelaki rekan pacar Nuri, Syaiful. Korban dibanderol mulai dari harga Rp 1 juta hingga 2 juta rupiah.

Selain dibawa ‘main’ di beberapa hotel di Surabaya, korban juga diajak ke salah satu hotel di Sampang, Madura, untuk melayani tidur si pembeli.