EQUITYWORLD FUTURES – Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus disalahartikan sebagai tempat mencari pesugihan. Bukan itu saja, ritual nyeleneh yakni harus bersetubuh juga harus dilakukan demi terkabulnya hajat yang dimaksud di gunung tersebut.

Namun tempat yang salah diartikan bukan hanya di Gunung Kemukus saja, di makam Roro Mendut juga pernah terjadi fenomena nyeleneh serupa. Harus berhubungan seks bila ingin hajatnya terkabul.

Makam puteri yang terkenal akan kecantikannya itu terletak di dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY. Entah benar atau tidak, banyak warga yang menyakini jika di tempat tersebut Roro mendut dikebumikan. Dulu banyak orang yang sering menziarahinya.

Lalu mengapa bisa ada keyakinan pesugihan di makam tersebut? Benarkah ada praktik seks bebas terselubung di sekitar makam tersebut? Berikut kisahnya:

1. Makam Roro Mendut kini tak terurus

Nama Roro Mendut tentunya sudah akrab di telinga. Namun siapa sangka makam perempuan cantik di zaman Sultan Agung tersebut kini justru tidak terurus..

Saat merdeka.com mendatangi makam yang terletak di dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman tersebut sudah tidak lagi terurus. Jalan menuju lokasi makam juga tidak bisa diakses dengan kendaraan bermotor. Di sekitar makam juga tampak pohon-pohon rindang dan sampah-sampah.

Sementara makam sendiri sudah dalam keadaan tak terawat. Bangunan Cungkup yang menaungi makam juga sudah rapuh dan banyak kerusakan. Genting-genting sudah copot, tembok teras juga sudah roboh dan berlumut. Kain putih seperti tirai di atas makam juga sudah kumal dan penuh dengan debu lembab. Tembok-tembok juga sudah mengelupas dan penuh dengan coret-coretan.

Menurut kepala dukuh Gandu, Sudiyana, kondisi makam Roro Mendut yang rusak tersebut sudah terjadi sejak lama. Menurutnya sejak para tokoh-tokoh agama gencar memberikan pengajian di masyarakat, makam tersebut tidak lagi dirawat.

“Dulu ada juru kuncinya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi, sudah lama tidak ritual-ritual seperti dulu,” katanya saat ditemui dirumahnya, Senin (8/12).

2. Makam Roro Mendut tempat mencari pesugihan dan seks bebas

Makam Roro Mendut yang rusak menurut kepala dukuh Gandu, Sudiyana bukan karena sengaja dilakukan, namun memang rusak pasca terjadi gempa pada 2006 lalu. Sementara ditutupnya akses jalan untuk kendaraan bermotor ke makam memang dilakukan oleh warga supaya tidak digunakan untuk hal negatif.

“Dulu itu ya dipakai untuk ritual, setelah itu dipakai untuk nongkrong anak-anak muda dan mabuk-mabuk, karena meresahkan warga lantas ditutup aksesnya,” jelasnya.

Penutupan akses jalan tersebut sudah dilakukan sejak tahun 90an. Saat itu banyak orang datang dari luar yang ingin mencari pesugihan dengan melakukan ritual berhubungan seks dengan lawan jenis yang tidak dalam ikatan suami istri.

“Ritual itu kadang ada laki-laki dan perempuan ke sana, kalau cerita dari orang-orang tua ya seperti itu (berhubungan seks), katanya pesanan dari juru kunci,” tandasnya.

3. Ritual seks dan pesigihan sejak Muhammadiyah datang

Menurut kepala dukuh Gandu, Sudiyana, makam tersebut sudah tidak lagi digunakan ziarah sejak para tokoh Muhammadiyah kerap memberikan pengajian dan memperingatkan warga bahwa hal tersebut bertentangan dengan agama Islam. Sejak itu kemudian warga perlahan-lahan menutup makam tersebut dan juru kuncinya pun tidak lagi ada.

“Juru kuncinya, Pak Bakrun sekarang juga sudah tidak mau mengurusi itu, itukan diturunkan dari bapak, dulu bapaknya Pak Bakrun yang jadi juru kunci,” ungkapnya.

Meski demikian dia tidak menutup mata jika ada orang-orang yang masih diam-diam mendatangi makam untuk ziarah. Namun dia menegaskan biasanya orang yang datang justru bukan warga sekitar, tapi dari tempat yang jauh.

“Kitakan tidak bisa memantau, tempatnya tersembunyi, jalan juga sudah kita tutup, ya mungkin ada yang diam-diam kesitu, tapi bukan warga sini,” jelasnya.

4. Warga tolak renovasi makam Roro Mendut

Tidak terawatnya makam Roro Mendut di Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman membuat pemerintah ingin melakukan pemugaran. Namun gagasan tersebut ditolak mentah-mentah oleh warga dan sejumlah tokoh agama di Gandu.

Tidak hanya pemerintah saja, namun beberapa orang secara pribadi ada yang sudah menawarkan diri untuk melakukan perbaikan dengan dana sendiri. Namun niat tersebut tetap ditolak.

Menurut kepala Dukuh Gandu, Sudiyana, penolakan tersebut karena warga takut makam tersebut akan kembali menjadi tempat ritual-ritual yang bertentangan dengan agama seperti ditahun 70-an hingga 90-an.

“Dulu para tokoh disini menolak, tapi kalau sekarang saya juga tidak bisa memutuskan, karena kalau warga tidak mau gimana? Khawatirnya seperti dulu,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Senin (8/12).

Menurutnya makam Roro Mendut tersebut sempat direnovasi oleh juru kunci dengan mengganti kijing dan lantainya. Namun setelah ditinggal juru kunci tempat tersebut jadi tidak terawat.

“Dulunya itukan cuma tumpukan kayu, terus sama juru kunci diganti kijing seperti sekarang ini, lantai pakai keramik itu ya pas ganti kijing,” terangnya.

Pasca ditinggal juru kunci, lanjutnya, sempat ada seseorang dari Solo yang ingin memugar makam tersebut dengan biaya sendiri. Namun niatan tersebut juga ditolak warga. “Mungkin itu yang dulu pernah ritual di situ dan berhasil, terus mau memperbaiki,” tambahnya.

Sampai saat ini belum ada rencana untuk pemugaran makam Roro Mendut. Jika pun ada kemungkinan besar akan ada penolakan lagi dari warga. “Kita dulu juga pernah mau bongkar dinding makam supaya tidak tertutup seperti sekarang dan diberikan penerangan supaya bisa terpantau, tapi juga tidak disetujui,” tandasnya