EQUITYWORLD FUTURES – Rumah Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat nasional (PAN) Amien Rais di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dini hari tadi ditembak orang tak dikenal. Tembakan tersebut mengenai bagian belakang mobil Toyota Harrier milik Amien Rais.

Kejadian penembakan sendiri terjadi sekitar pukul 02.00 Kamis, dini hari. Hingga kini polisi masih kesulitan mengidentifikasi pelaku karena tidak ada saksi yang melihat kasus penembakan itu secara langsung.

“Sejauh ini belum ada dugaan siapa pelaku, karena tidak ada saksi yang melihat kejadiannya secara langsung,” ujar Kapolres Sleman AKBP Ihsan Amin kepada wartawan di lokasi kejadian, Kamis (6/11).

Amien Rais sendiri mengaku sudah sering mendapat teror, namun penembakan kali ini adalah yang terparah. Lalu benarkah mantan Ketua MPR ini juga pernah dikirimi teror mistis? Berikut ceritanya:

1. Santet tak mempan, Amien diteror tembakan

 

Amien Rais mengaku kerap mendapatkan teror. Bahkan penembakan yang terjadi dini hari tadi di rumahnya juga diduga bagian dari teror itu. Menurut Amien, penembakan adalah teror yang mungkin dilakukan kepadanya karena cara mistis lainnya tidak akan mempan.

“Saya itu salat lima kali sehari, jadi kalau disantet tidak mungkin, makanya caranya dengan cara ditembak seperti itu,” ujar Amien Rais di rumahnya di kompleks Pandeansari, RT 01/03, Condong Catur, Sleman, DIY, Kamis (6/11).

2. Rumah Amien Rais diteror ‘sesajen’

 

Putri Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais menceritakan soal teror sajen yang ditemukan di kediamannya, Kompleks Taman Gandaria Blok C Nomor 1, Gandaria, Jakarta Selatan.

Menurutnya, penemuan sajen di semak-semak antara tanaman hias depan rumah bukan kali pertama. Sudah tiga kali teror mistis yang sama terjadi.

“Sesajen yang disembunyikan di rumah Amien Rais sudah tiga kali,” kata Hanum di Facebook, Kamis (6/11).

Tulisan Hanum tersebut disertai foto dua buah kendil. Dari ciri-cirinya, dua kendil tersebut gosong seperti habis dibakar. Sudah tidak ada isi di dalam kendil.

Meski sering mendapat teror, pihak keluarga enggan melaporkan ke polisi. “Namun keluarga AR tidak pernah melaporkan ke polisi demi kepentingan nasional,” lanjutnya.

3. Amien Rais: Kalau ada yang ngeruwat tidak masalah

 

Hingga kini pelaku penembakan di rumah Amien rais masih diselidiki polisi. Lalu apakah teror kali ini ada kaitannya dengan ruwatan yang dilakukan beberapa orang beberapa waktu lalu?

“Saya tidak ada masalah apa-apa dengan ruwatan. Kalau ada yang mau ngeruwat tidak masalah, mereka juga kan dapat uang,” ujar Amien Rais di rumahnya di kompleks Pandeansari, RT 01/03, Condong Catur, Sleman, DIY, Kamis (6/11).

Amien Rais menduga penembakan yang terjadi di rumahnya adalah teror yang sengaja dilancarkan pihak-pihak tertentu. Teror tersebut diduga untuk menakut-nakuti dirinya.

“Ini target teror mungkin hanya menakut-nakuti Saya, tapi Saya tidak takut,” ujar pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

4. Pelaku diduga orang bayaran

 

Putra Sulung Amien Rais, Hanafi Rais menceritakan kejadian penembakan di rumah ayahnya, Amien Rais. Hanafi mengaku mendapatkan informasi kejadian tersebut pagi tadi pada pukul 06.30 WIB.

“Kalau boleh bertanya ke hati nurani pelakunya, saya harap diberi jalan terang,” kata Hanafi Rais kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/11).

Penjaga rumah pun langsung mengejar pelaku penembakan yang diketahui mengendarai sepeda motor. Namun, penembak langsung lari dan tidak diketahui jejaknya.

“Bapak saya ada di situ (rumah). Kalau pakai batu dan poster itu tidak apa-apa (terornya). Tapi kalau sudah pakai senjata api berarti tidak main-main. Sehingga kami laporkan ke pihak berwajib,” jelasnya.

Hanafi enggan berspekulasi teror tersebut ada kaitannya dengan memanasnya iklim politik di tanah air. Yang jelas, dia tetap berusaha untuk berprasangka baik atas kejadian tersebut. “Saya tidak mau suudzon, menduga-duga. Tunggu hasil dari kepolisian, hingga siang ini polisi masih kerja,” terangnya.

Menurut Hanafi, ada dua motif dibalik aksi penembakan tersebut. Pertama karena pelaku berusaha menteror agar ayahnya takut dan hal itu dinilai tidak berhasil. “Ayah saya nggak pernah takut, jadi tujuan pertama gagal,” tegasnya.

Kedua, kata Hanafi, pelaku ingin publisitas dan telah berhasil. Bahkan, tambah dia, pelaku telah mendapatkan bayaran atas aksi yang dilakukannya. “Mungkin sudah dapat bayaran karena berhasil,” tambahnya.