Gunung Slamet yang meliputi Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, Jawa Tengah, Jumat, pukul 00.00-06.00 WIB, mengeluarkan 104 kali sinar api. Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dikeluarkan setiap enam jam sekali, jumlah sinar api tersebut merupakan yang terbanyak dibanding hasil pengamatan periode-periode sebelumnya.

Saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengakui bahwa sinar api yang terlihat pada hari Jumat (29/8), pukul 00.00-06.00 WIB, merupakan yang terbanyak selama status Siaga Gunung Slamet.

“Ada dua kemungkinan yang menyebabkan sinar api teramati sangat banyak, yaitu cuaca cerah dan adanya tremor terus menerus sehingga aktivitas telah dekat permukaan, sehingga tampak sinar api,” kata Surono seperti dikutip dari Antara, Jumat (29/8)

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Kamis (28/8), pukul 18.00-00.00 WIB, Gunung Slamet terhalang kabut dan saat cuaca terang, teramati 55 kali sinar api setinggi 50-150 meter, serta terekam gempa tremor menerus.

Sementara pada hari Jumat (29/8), pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Slamet tertutup kabut dan saat terang, teramati 104 kali sinar api setinggi 50-500 meter serta tiga kali lontaran material pijar setinggi 200-300 meter dari puncak, sedangkan dari sisi kegempaan terekam tremor menerus.

“Pada pukul 06.00-12.00 WIB, Gunung Slamet tertutup kabut dan saat terang, teramati asap putih tipis setinggi 50-200 meter dari puncak, sedangkan kegempaan terekam tremor vulkanik menerus,” kata pria yang akrab dipanggil Mbah Rono itu.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, kata dia, dapat disimpulkan bahwa status Gunung Slamet tetap ‘Siaga’ dan masyarakat agar tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari puncak.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di luar radius 4 kilometer dari puncak Gunung Slamet, agar tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Sebelumnya, Surono mengharapkan aktivitas Gunung Slamet tetap sama meskipun terjadi tremor menerus dalam beberapa hari terakhir.

“Mudah-mudahan aktivitasnya tetap sama, energinya hanya untuk embusan asap dan untuk lontaran material pijar saja,” katanya.

Menurut dia, aktivitas Gunung Slamet masih tinggi yang terlihat dari masih banyaknya gempa yang terekam dan terekamnya tremor menerus.

“Tremor dan gempa merupakan cara gunung api himpun energi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet Sudrajat mengatakan bahwa letusan yang terjadi di Gunung Slamet tidak sebanyak awal status “Siaga”.

“Kendati demikian, dia mengakui bahwa aktivitas Gunung Slamet hingga sekarang masih tergolong tinggi karena teramati adanya sinar api “Seperti tadi malam beberapa kali ada sinar api disertai lontaran lava pijar, tetapi tidak ada luncuran. Kondisi tersebut menunjukkan kalau aktivitas magma masih tinggi sudah terlihat sekali di permukaan,” katanya.