EQUITYWORLD FUTURES – Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menuturkan perkiraan kebutuhan impor hingga Maret 2016 mencapai 1,5 juta ton.

Akan tetapi, dia memperhitungkan kebutuhan impor beras selama setahun bisa mencapai 2 juta ton.

Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk mengimpor beras, kata Djarot, tergantung dengan harga beras dari negara pemasok.

Apalagi, harga beras saat ini cenderung fluktuatif, misalnya harga beras dari Vietnam mengalami kenaikan.

“Kebutuhan ini ada angka maksimum, dan rata-rata. Misalnya kita butuh stok 2 juta ton, ya kalikan saja Rp 7.300 per kilogram,” kata Djarot, di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (14/1/2016).

Dengan asumsi kebutuhan mencapai 2 juta ton, dan harga beras Rp 7.300 per kilogram, artinya anggaran yang dibutuhkan untuk impor mencapai Rp 14,6 triliun.

Berdasarkan perhitungan lama di mana hingga Maret 2016 dibutuhkan impor sebesar 1,5 juta ton, Djarot mengaku ragu bahwa sisa pasokan dari Vietnam dan Thailand sebesar 700.000 ton bisa mencukupi.

“Apakah ini cukup? Ini perlu dilakukan pendalaman,” sambung dia. Intinya, kata Djarot, pemerintah berkomitmen agar cadangan beras memadai.

“Sehingga, kalau ada El Nino yang menyebabkan produksi drop, atau beras yang ada di masyarakat tidak bisa keluar, konsumen bisa dijaga,” kata Djarot.