EQUITYWORLD FUTURES – Organisasi penyelenggara balapan MotoGP, Dorna Sport memberikan tantangan kepada Pemerintah Indonesia agar semua syarat, terutama letter of intent (LOI), dan masterplan rampung di akhir November mendatang. Jika terpenuhi, maka penandatanganan kontrak Indonesia sebagai tuan rumah MotoGP 2017 akan dilakukan awal 2016.

Syarat lain setelah itu adalah Indonesia harus menyiapkan sejumlah dana, khususnya membayar promotor sebesar 7 juta euro atau setara Rp 109 miliar. Biaya lainnya adalah untuk merenovasi Sirkuit Internasional Sentul yang membutuhkan uang Rp 150 miliar. Dari mana anggaran itu didapat?

Juru Bicara Menteri Pemuda dan dan Olahraga (Menpora) Gatot S Dewa Broto menjelaskan, saat ini anggaran yang telah disetujui oleh DPR adalah sebesar Rp 5 miliar sedangkan totalnya harus terkumpul Rp 150 miliar. Tapi menurutnya ini tergolong langkah bagus, karena sisanya bisa didapat dengan menggandeng pihak swasta.

“Untuk merenovasi Sirkuit Sentul, anggarannya itu Rp 150 miliar, tapi karena kondisi dan situasi ekonomi Indonesia sedang tidak kondusif maka DPR hanya memberikan Rp 5 miliar. Ibaratnya ini uang muka saja, dengan harapan pihak swasta bisa membantu,” ujar Gatot saat konferensi pers di kantor Menpora, Senayan, Jakarta Selatan,  Rabu (21/10/2015).

Sementara itu, Irawan Sucahyono, mantan Sekjen Ikatan Motor Indonesia (IMI) menambahkan, sebenarnya jika kondisi Indonesia sudah bagus dalam artian memiliki sirkuit yang standar balapan MotoGP maka biaya untuk menjadi tuan rumah hanya membayar 7 juta euro kepada promotor. Tapi, karena belum punya sirkuit yang mumpuni, biayanya menjadi lebih besar.

“Biaya untuk membayar promotor itu akan dibayar oleh Kementerian Pariwisata dan Rp 150 miliar itu untuk merenovasi Sentul sampai menjadi standar sirkuit MotoGP. Katanya sisanya akan didapat dari pihak swasta,” kata Irawan kepada KompasOtomotif.