Sisa-sisa debu masih menempel di wajahnya. Raut lelah, serta kantuk sudah menggelayut di kelopak mata. Namun mereka paksakan demi Garuda Jaya.

Seperti dilaporkan wartawan merdeka.com, Didi Syafirdi dari Rangon, Myanmar, dua pria perlahan menuruni anak tangga Stadion Youth Training Center. Penampilannya berbeda dengan suporter lainnya, helm, kacamata dan tas besar melekat di tubuh.

Yudha Pohan dan Aman Hamonangan Siregar baru saja menempuh jarak ribuan kilo. Dua pria asal Medan, Sumatera Utara itu memilih cara lain untuk sampai ke Myanmar.

Keduanya menggowes sepeda dari Bangkok, Thailand demi menyaksikan Evan Dimas dkk bertanding. Dari kampung halaman, mereka terlebih dahulu terbang menggunakan pesawat.

“Kita berangkat tanggal 5 Oktober, di jalan 7 hari,” kata Pohan yang mengenakan celana pendek dan kaos putih itu.

Karena memang hobi bersepeda, perjalanan yang tidak mudah ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Berbagai perlengkapan dibawa sebagai bekel. Sejumlah kendala juga sempat dihadapi selama mengayuh sepeda.

“Kita kan keluar masuk hutan, harus matang persiapannya,” ujar Pohan yang baru tiba ketika Indonesia berhadapan dengan Australia, 12 Oktober kemarin.

Untuk sampai sesuai jadwal Indonesia U-19 main, kata Aman, dibuat target dalam sehari jarak yang harus ditempuh. Jika tidak, lanjutnya, perjalanan sia-sia karena tak bisa lihat penampilan anak asuh Indra Sjafri.

“Kita target sehari 100 kilo, 6 sampai 8 jam. Istirahat empat kali, pagi dan sore, kira-kira di jarak 25 kilo,” ungkapnya.

Kegagalan Garuda Jaya tentu mengecewakan Pohan dan Aman. Mereka pun memilih kembali ke Tanah Air, pada Selasa (14/10), langsung terbang ke Medan. “Sepeda kan bisa kita lipat,” tandas Aman.