EQUITYWORLD FUTURES – Ujian Nasional berbasis sistem komputer atau computer based test (CBT) yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mulai diterapkan di beberapa sekolah. Selain kesiapan komputer dan sumber daya listrik, sosok teknisi sekolah juga menjadi salah satu penentu berjalannya sistem CBT.

Teknisi UN merupakan orang-orang yang setiap detik memonitor dan selalu siaga di sebuah ruang server selama pelaksanaan UN. Jika sewaktu-waktu terjadi listrik padam dan mengakibatkan komputer mati atau terjadi error dari sistem yang digunakan, mereka harus secepatnya memperbaiki. Dengan demikian, siswa tidak terhambat dalam mengikuti UN.

Tanggung jawab sebagai teknisi selama berlangsungnya UN berbasis komputer ini dirasakan oleh Joko Gunadi. Pria berusia 53 tahun yang ditunjuk menjadi teknisi Sekolah SMK Negeri 3 Kasihan Bantul ini pun mengaku selama pelaksanaan UN berbasis CBT berlangsung, server diperhatikan layaknya istri. Selama UN berlangsung, dia pun harus memantau tiga server yang ada di SMK Negeri 3 Kasihan Bantul bersama satu rekannya yang lain.

“Ini (server) sudah seperti istri. Dijaga benar-benar, dimonitor dan siap ketika terjadi error,” ujar Joko Gunadi saat ditemui di ruang server SMK Negeri 3 Kasihan Bantul, Senin (13/04/2015).

Bagi dia, tanggung jawab sebagai teknisi dalam pelaksanaan UN berbasis komputer merupakan pengalaman yang pertama kalinya. Namun, dia sangat terbantu dengan adanya pelatihan-pelatihan yang diselengarakan sebelum UN berlangsung.

“Sebelum UN teknisi mendapat pelatihan-pelatihan. Sangat membantu sekali,” ujarnya.

Pengalaman pertama sebagai teknisi, lanjutnya, langsung diwarnai sedikit masalah. Di hari pertama terdapat puluhan siswa di Laboratorium Dua dan Laboratorium Tiga tidak bisa login. Sementara setiap siswa sudah mengantongi token, user name dan password.

Shift pertama pagi hari, ada Lab Dua dan Lab Tiga tidak dapat login,” ucapnya

Peristiwa pada pelaksanaan UN perdana ini sempat membuatnya panik dan pontang-panting. Sebab selama proses pengunduhan data awal tidak mengalami masalah. Perangkat komputer yang digunakan juga jauh dari mumpuni untuk sistem CBT. Terlebih komputer di SMK Negeri 3 Kasihan Bantul selama ini digunakan untuk membuat animasi.

“Siswa-siswa banyak yang komentar, ‘kok begini, kok error. Bagaimana ini teknisinya’. Tapi ya enggak apa-apa, sudah biasa. Yang penting bergerak cepat untuk memperbaiki,” kata dia.

Sebagai teknisi, dia pun segera berkoordinasi dengan pusat terkait problem yang terjadi. Setelah mendapat pengarahan, dengan cepat bapak dua anak ini segera melakukan langkah-langkah sesuai anjuran. Alhasil, sempai dengan shift empat pelaksanaan CBT perdana di SMK Negeri 3 Kasihan Bantul berlangsung lancar.

“Siswa yang shift pertama gagal login, mengikuti ujian di waktu cadangan atau shift empat. Saya tetap standby dan tidak ada masalah lagi,” tuturnya.

Otodidak

Dia menuturkan, dirinya paham soal program dan komputer tidak lewat bangku sekolah melainkan secara otodidak setelah pada tahun 2003 lalu dipindahtugaskan ke SMK Negeri 3 Kasihan Bantul. Sebelumnya, Joko bekerja di Dinas Sosial.

“Tahun 2000 mulai kerja di Dinas Sosial, lalu kan itu dihapus. Nah saya ditempatkan di sini (SMK Negeri 3 Kasihan Bantul),” kata dia.

Di lokasi barunya, Joko ditempatkan sebagai karyawan administrasi sekaligus teknisi komputer. Segala macam kerusakan mau pun perawatan komputer di SMK Negeri 3 Kasihan Bantul menjadi tanggung jawabnya.

“Mau tidak mau harus bisa soal komputer. Saya otodidak, mengutak-atik sendiri. Kalau tidak tahu ya saya baca buku atau mencari di internet,” ucapnya.

Selain itu, dia juga tak segan-segan bertanya kepada orang-orang yang lebih ahli. Baginya ketika ada niat untuk belajar maka pasti bisa.

“Saya sengaja melihat orang memperbaiki komputer, lalu tanya, ngobrol dan mencoba sendiri. Ya sekarang sudah bisa,” ujarnya.

Ia pun menegaskan akan menjalankan tanggung jawabnya sebagai teknisi dalam UN berbasis komputer ini dengan baik. Sehingga para siswa dapat secara lancar mengikuti Ujian Nasional tanpa halangan dan hambatan, terutama soal sistemnya. “Harapan saya, semoga UN dapat berjalan lancar dan tidak ada kendala,” ujarnya.