EQUITYWORLD FUTURES –

Angka buta aksara di Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ) masih tinggi. Pada tahun 2014 ini tercatat 14 persen atau sekitar 266 ribu dari 1,9 juta warga DIY yang berusia lebih dari 15 tahun masih dalam kondisi buta aksara. Namun jika rentang usia diperpendek yaitu usia 15-59 tahun, maka yang masih dalam kondisi buta aksara 7,14 persen atau 66.079 dari 1,5 juta jiwa.

“Kenyataan itu cukup menggelisahkan mengingat DIY dikenal sebagai kota pendidikan. Karenanya, kita telah bersepakat dengan lima kabupaten dan kota di DIY unuk menerunkan angka buta aksara itu hingga dibawah lima persen di akhir tahun 2017,” kata Drs Kadarmanta Baskara Aji, Kepala Dinas DIKPORA DIY, di sela acara peringatan hari aksara internasional ke-49 di DIY, Rabu (15/10/2014).

Tingginya angka buta aksara pada kelompok usia lanjut, yang mencapai 200 ribu jiwa pada kelompok usia diatas 60 tahun ini menurut Baskara, merupakan konsekuensi dari tingginya usia harapan hidup di DIY. Lebih lanjut Baskara mengatakan, meski angka buta aksara pada kelompok usia lanjut relatif tinggi, namun mereka bukan kelompok target dari program pengentasan buta aksara ini.

Menurut Baskara, program lebih difokuskan pada kelompok usia produktif 15 hingga 59 tahun. “Selain sulit untuk membimbing mereka, kemampuan baca tulis pada kelompok usia lanjut ini juga tidak akan memberikan manfaat sebesar pada kelompok usia produktif,” lanjut Baskara.

Untuk mencapai target penurunan angka buta aksara tersebut menurut Baskara, pihaknya kini telah melakukan pendataan terhadap masarakat DIY yang masih dalam kondisi buta aksara.

“Kita turunkan petugas sampai ke tingkat RT/ RW untuk mendata by name by address terhadap mereka, selanjutnya mereka kita arahkan untuk bergabung dengan kelompok belajar masyarakat atau KBM terdekat, yang di seluruh DIY terdapat 217 KBM dengan sekitar 3600 tutor,” kata Baskara.