EQUITYWORLD FUTURES – Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Rudi Sabarudin mengatakan instansinya akan memeriksa terlebih dahulu kaitan kematian Evan Christoper Situmorang dengan kegiatan masa orientasi siswa (MOS) di SMP Flora, Pondok Ungu Permai.

Dia tidak ingin langsung membuat kesimpulan terhadap masalah ini. “Kita harus mengumpulkan informasi selengkapnya, enggak bisa langsung menjustifikasi. Ini memang musibah buat kita semua. Kita akan periksa apa ada kaitan antara kematian Evan dengan MOS itu,” ujar Rudi ketika dihubungi, Senin (3/8/2015).

Rudi mengatakan ada jarak waktu yang jauh antara kematian Evan dengan waktu pelaksanaan MOS. MOS dilakukan sekitar awal Juli sementara Evan meninggal di akhir bulan Juli. Apalagi, sebelum meninggal Evan sempat terjatuh di kamar mandi sekolah.

Selain itu, pada saat MOS tersebut, tidak hanya Evan yang disuruh berjalan kaki sejauh 4 KM. Akan tetapi, semua siswa baru ikut melakukan kegiatan itu.

Hanya Evan yang kakinya diketahui membiru dan bengkak. Rudi mengatakan harus dicari tahu apakah Evan memiliki latar belakang penyakit tertentu atau tidak. Dengan semua fakta itu, kata Rudi, belum bisa langsung disimpulkan bahwa kematian Evan disebabkan MOS.

Meskipun demikian, Rudi mengatakan Dinas Pendidikan akan memperketat kembali pengawasan mereka terhadap pihak sekolah.

Dia mengaku sebelumnya telah menginformasikan kepada semua sekolah negeri dan swasta untuk tidak melaksanakan MOS yang tidak mendidik. Kegiatan orientasi siswa saat ini harus diisi dengan kegiatan positif seperti bakti sosial.

“Ke depannya semoga tidak terjadi lagi kasus seperti ini,” ujar Rudi.

Sebelumnya, Evan Christoper Situmorang (12), seorang siswa baru di SMP Flora Pondok Ungu Permai, meninggal setelah dua minggu mengalami keram dan biru di kedua kakinya.

Keram yang dialami Evan dipicu oleh perintah seniornya saat hari terakhir masa orientasi sekolah (MOS) di sekolahnya. Evan disuruh berjalan kaki sejauh 4 kilometer pada hari terakhir MOS.