EQUITYWORLD FUTURES – Singapura mempertahankan posisinya sebagai negara yang paling mudah untuk melakukan usaha. Demikian  laporan “Doing Business 2016″ yang dipublikasikan Bank Dunia, Selasa (27/10/2015) waktu setempat.

Sementara itu, Indonesia masih berada peringkat 101 dari 189 negara yang disurvei, meski berhasil naik 8 peringkat dibandingkan posisi tahun lalu pada 109.

Posisi tersebut masih jauh di bawah peringkat negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia yang berada di peringkat 18, kemudian Thailand (49), atapun Vietnam (90).

Laporan tersebut menyebutkan, negara-negara berkembang meningkatkan kecepatan reformasi mereka yang ramah bisnis pada tahun lalu.

Hampir tidak ada perubahan dalam 10 besar negara yang paling ramah berbisnis tersebut.

Selandia Baru tetap di posisi nomor dua, diikuti oleh Denmark ketiga, Korea Selatan keempat, Hongkong kelima, Inggris keenam dan Amerika Serikat ketujuh.

Swedia naik satu tingkat ke posisi nomor delapan, beralih tempat dengan Norwegia yang turun ke posisi kesembilan, dan Finlandia bertahan di tempat ke-10.

Laporan “Doing Business” tahunan Bank Dunia, yang saat ini merupakan tahun ke-13, melihat lingkungan peraturan bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah guna melihat bagaimana peraturan bisa  menghambat atau membantu dalam melakukan bisnis. Dari memulai dan membayar pajak hingga mendaftarkan harta kekayaan atau properti serta perdagangan lintas batas.

“Sebuah ekonomi modern tidak dapat berfungsi tanpa regulasi dan, pada saat yang sama, itu dapat menjadi terhenti karena peraturan yang buruk dan rumit,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia Kaushik Basu.

Kemajuan cenderung menurun di antara lima kekuatan “emerging-market” atau negara berkembang pesat yang dikenal sebagai BRICS: Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia, turun satu tingkat ke posisi 84. Brazil jatuh ke posisi 116 dari 111,  dan Afrika Selatan turun empat tingkat ke peringkat 73.

Sementara Rusia, yang kesulitan dengan ekonominya yang terpukul oleh penurunan harga minyak dan Sanksi Barat atas konflik Ukraina, naik dalam peringkatnya, menjadi di peringkat 51 dari 54.

India naik ke peringkat 130 dari 134 tahun lalu. Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, dalam sebuah laporan awal pada Oktober bahwa India telah siap untuk pertumbuhan tercepat diantara negara emerging-market tahun ini, pada 7,3 persen, sebagian berkat reformasi kebijakan.

Dari 189 negara yang disurvei hingga 1 Juni, Bank Dunia menemukan perbaikan dalam kerangka regulasi di 122 dari mereka.

Di antara negara-negara berkembang, 85 melaksanakan 169 reformasi selama tahun lalu tahun, dibandingkan dengan 154 reformasi tahun sebelumnya.

Sementara  di posisi buncit alias negara terbutuk untuk berbisnis adalah Eritrea (189).