EQUITYWORLD FUTURES – Kondisi perekonomian Indonesia sepanjang 2015 ini masih melambat, situasi juga tidak didukung dengan masih lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, seluruh sektor industri pendukung termasuk pebisnis aksesori otomotif mengalami penurunan daya beli karena harga barang yang naik.

Seperti yang dialami oleh Berkah Jaya Ban di Jalan Raya Jatiwaringin Nomor 12 Pangkalan Jati, Jakarta Timur. Toko spesialis ban dan pelek ini mengaku setelah Hari Raya Idul Fitri lalu hingga sekarang, penjualannya mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Daya belinya tidak ada sementara barang menumpuk. Kondisi seperti ini yang bikin kita pusing,” ujar pemilik toko Asmal saat ditemui KompasOtomotif beberapa hari lalu di Jakarta Timur.

Asmal melanjutkan, sejak dollar AS berada di atas Rp 14.000, harga ban terutama pelek mengalami kenaikan sebesar tujuh persen. Apalagi pelek yang dijualnya diimpor dari Taiwan. Naiknya harga tersebut menjadikan Asmal dilema, karena saat daya beli masyarakat menurun, penjual harus mengerek harga.

“Barang yang kita beli diimpor, harga disananya naik karena dollar tinggi. Otomatis kita juga menaikkan harga. Kondisi ini sudah dimulai setelah lebaran, sebelum musim mudik orang mau-tidak-mau terpaksa harus membeli ban. Kalau pelek sudah lesu dari sebelum lebaran,” ucapnya.

Sekarang ini, Asmal mengusahakan setiap ada konsumen datang tidak boleh pergi lagi. Artinya, harga berapapun yang ditawar pembeli, asalkan tidak rugi akan dilepas, karena ia harus tetap memutar roda usahanya. “Jika tidak ada putaran itu yang bingung. Kami berharap kondisi akan semakin membaik,” ucapnya.