EQUITYWORLD FUTURES – Begitu besarnya pengaruh Indonesia terhadap nilai tukar mata uang asing, terutama dollar Amerika Serikat dicerminkan lewat kondisi bisnis lokal, salah satunya aksesori mobil. Masih banyaknya dominasi produk impor  di bisnis penunjang aksesori ini membuat harga otomatis terkerak.

Seperti pengakuan para pedagang aksesori aftermarket di MGK, Kemayoran, Jakarta Pusat. Willy misalya, pemilik toko Istana Mobil Sport di lantai lima, blok D8, nomor lima, MGK Kemayoran. Menurutnya, sejak dollar AS berada di level Rp 14.000 harga aksesori yang dijualnya menjadi naik. Karena, sebagian besar barang di tempatnya itu diimpor dari Taiwan dan China.

“Ketika dollar AS tembus Rp 14.000 kita mau tidak mau harus menaikkan harga. Kenaikannya rata, sampai 10 persen,” ucap Willy saat ditemui KompasOtomotif, Kamis (1/10/2015).

Selain harga menjadi naik, minat beli masyarakat pun ikut menurun. Keadaan seperti itu sudah dialaminya dalam beberapa bulan lalu. Dengan kondisi perekonomian Indonesia yang tengah menurun, pria berkulit putih itu pun hanya bisa pasrah dan menunggu sampai normal.

“Sekarang ini kita hanya bisa bertahan sambil menunggu kondisi kembali pulih dan daya beli masyarakat kembali membaik,” katanya.

Di tempat yang sama, Suryanto pemilik toko aksesori Alif Auto juga mengatakan hal yang sama. Dalam beberapa bulan lalu, peminatnya menurun atau tidak seperti biasanya. Sepinya minat konsumen itu dirasakan sejak dollar AS berada di level Rp 14.000.

“Penurunan minat daya beli masyarakat cukup terasa, terutama baru-baru ini. Biasanya setiap hari penuh, ini ada saja pembeli, tapi tidak sebanyak sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Untuk menarik minat masyarakat, Alif Auto pun punya cara tersendiri. Menurut Desi, istri dari Suryanto, disiasati dengan menggelar banyak promo menarik.