Equityworld Futures Semarang – Pada perdagangan pagi ini, harga logam mulia emas menguat tipis. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) beberapa hari terakhir masih jadi penghambat harga emas untuk naik lagi. Namun ada yang meramal harga emas bisa sentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

Equityworld Futures Semarang : Perhatian ! Ada yang Ramal Harga Emas Bisa Tembus US$ 3.000

Rabu (22/4/2020) pada 07.25 WIB emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.686,99/troy ons atau menguat tipis 0,08%. Pagi ini harga emas cenderung flat. Namun sejak menyentuh level tertingginya di US$ 1.727,7/troy ons harga logam mulia cenderung tergelincir.

Pada 14 April 2020, harga emas menyentuh level tertinggi dalam 7,5 tahun terakhir. Sejak saat itu emas melorot 2,36%. Penyebab anjloknya harga emas adalah penguatan dolar AS. Pada periode yang sama indeks dolar yang mencerminkan posisi dolar AS di hadapan enam mata uang lainnya menguat 1,3%.

Penguatan dolar AS menjadi sentimen negatif yang memberatkan harga emas lantaran dolar adalah mata uang yang digunakan untuk transaksi emas. Keperkasaan dolar AS membuat harga emas yang sudah mahal menjadi semakin mahal bagi pemegang mata uang lain.

kunjungi
PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka

Di sepanjang tahun 2020 ini, harga emas telah menguat 13,4%. Tahun lalu logam mulia ini melesat 18%. Pemicu harga emas yang terus naik adalah prospek perekonomian yang suram.

Tahun lalu ada perang dagang dan sekarang ada pandemi corona (COVID-19) yang membuat bayang-bayang resesi global kian nyata. Emas merupakan salah satu instrumen finansial yang dikenal sebagai aset minim risiko (safe haven).

Kala perekonomian menghadapi terpaan badai, investor beramai-ramai memburu emas untuk mencari naungan perlindungan. Sehingga harga emas mengalami apresiasi. Harga emas juga mendapat dukungan dari kebijakan bank sentral global yang menerapkan tingkat suku bunga rendah.

Selain itu kebijakan bank sentral dalam memberikan pelonggaran kuantitatif (QE) dengan membeli aset-aset finansial berbasis utang seperti surat utang pemerintah, efek beragun aset residensial hingga obligasi korporasi memicu penurunan yield yang membuat emas menjadi lebih menarik di mata investor.

Jika emas mampu kembali menembus level US$ 1.700, maka bukan tidak mungkin emas bisa melanjutkan penguatannya ke level psikologis selanjutnya di US$ 1.800/troy ons.

Bahkan baru-baru ini Bank of America Corp menaikkan target harga emasnya untuk periode 18 bulan ke depan. Harga emas diramal bisa menyentuh US$ 3.000/troy ons. Jika benar ini terjadi maka rekor tertinggi yang sempat dicapai pada 2011 saat harga emas mendekati US$ 2.000/troy ons terlampaui dan emas akan mencetak sejarah baru.

Akhir-akhir ini pasar sedang enggan bermain dengan risiko. Dalam dua hari terakhir Wall Street ditutup di zona merah akibat anjloknya harga kontrak minyak mentah WTI pengiriman Mei yang nyungsep ke level negatif.

Kontrak pengiriman Mei akan berakhir pada 21 April ini waktu AS. Jelang berakhirnya kontrak harga WTI pengiriman Mei berbalik arah dan kembali ke teritori positif.

Namun harga kontrak minyak WTI untuk pengiriman Juni yang lebih aktif diperdagangkan pun ikut tertekan signifikan sampai anjlok nyaris 50%. Harga kontrak WTI pengiriman Juni kini dibanderol belasan dolar per barel.

Investor yang kembali berjaga jarak dengan pasar saham dan lebih memilih untuk menghindari risiko menjadi sentimen positif untuk aset-aset safe haven seperti obligasi pemerintah, dolar AS hingga emas.

Baru-baru ini Reuters mengadakan survei ke 37 analis dan trader. Berdasarkan survei tersebut analis memperkirakan rata-rata harga emas untuk tahun 2020 berada di US$ 1.639/troy ons. Sementara untuk tahun 2021 harga diperkirakan mencapai US$ 1.655/troy ons. Sekedar mengingatkan ini adalah harga rata-rata, bukan berarti harga emas tak bisa naik tinggi lagi.

news edited by Equityworld Futures Semarang