Equityworld Futures Semarang – Harga emas dunia melemah pada perdagangan berakhir melemah pada perdagangan Senin (18/5/2020) kemarin. Sentimen pelaku pasar yang membaik merespons kabar vaksin virus corona membuat aset-aset aman (safe haven) seperti emas menjadi kurang menarik.

Equityworld Futures Semarang : Vaksin Corona, Kabar Baik Umat Manusia, Buruk Bagi Emas Dunia

Emas Senin kemarin melemah 0,51% ke US$ 1.732,06/troy ons, setelah sebelumnya menguat 1,35% ke US$ 1.764,55/troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 12 Oktober 2012.

Sementara pada perdagangan pagi ini, Selasa (19/5/2020) emas diperdagangkan menguat 0,41% di US$ 1.739,2/troy ons.

Kabar bagus dari vaksin virus corona yang diproduksi bioteknologi Moderna di AS. Moderna menyatakan hasil uji klinis pertama vaksin cukup positif. Pasalnya, imun atau antibodi dari 8 orang yang diujicobakan mampu menghasilkan antibodi virus corona.

Perusahaan memulai percobaan manusia fase 1 pertama pada Maret dengan 45 sukarelawan, dan telah disetujui untuk segera memulai fase 2, yang akan melakukan pengujian kepada 600 orang pada akhir Mei atau Juni. Jika semuanya berjalan dengan baik, vaksinnya dapat diproduksi pada awal Juli mendatang.

Kabar tersebut tentunya memberikan harapan virus corona bisa segera ditanggulangi dan kehidupan kembali normal, roda perekonomian kembali berputar kencang. Sentimen pelaku pasar pun membaik, dan emas turun dari level tertinggi nyaris 8 tahun terakhir.

kunjungi
PT. Equityworld Futures | Perusahaan Investasi Berjangka

Meski demikian, outlook jangka panjang bagi emas masih cukup bagus, mengingat kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan bank sentral dan pemerintah di berbagai negara saat ini. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membawa perekonomian global ke jurang resesi membuat bank sentral di berbagai negara secara agresif melonggarkan kebijakan moneter semakin agresif di tahun ini.

Negeri Paman Sam menjadi yang paling agresif. Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya hingga menjadi 0-0,25%, kemudian mengaktifkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat.

Itu baru The Fed, bank sentral lainnya juga menerapkan kebijakan yang sama, bank sentral Australia misalnya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah menerapkan program QE.

Di tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial global, The Fed dan bank sentral lainnya di Eropa menerapkan kebijakan yang sama, suku bunga rendah serta QE, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2011.

Tidak hanya bank sentral, pemerintah di berbagai negara juga menggelontorkan stimulus fiskal. Pemerintah AS sudah menggelontorkan stimulus senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Stimulus moneter dan fiskal tersebut membuat pasar banjir likuiditas, kondisi tersebut sangat menguntungkan bagi emas.

Belum lagi jika melihat risiko terjadinya babak baru perang dagang Amerika Serikat dengan China akibat hubungan kedua negara yang sedang meruncing.
Penyebabnya konflik kedua negara yakni asal-usul virus corona yang dikatakan berasal dari laboratorium di China.

Dalam pernyataannya kepada media, Presiden AS Donald Trump tak segan menyebut kemungkinan memutus hubungan dengan China. Alasannya, karena China gagal menahan pandemi COVID-19.

“Mereka seharusnya tidak membiarkan ini terjadi,” kata Trump dikutip Reuters.

“Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa memutus seluruh hubungan (dengan China),” tegasnya.

news edited by Equityworld Futures Semarang