EQUITYWORLD FUTURES – Mencuatnya isu pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden ke permukaan tak hanya membuka bobrok mentalitas elit politik dan permainan lihai pengusaha nakal.

Secara tak langsung, isu pencatutan juga membuka tabiat-tabiat perusahaan tambang asing di Indonesia.

Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Sudirman Said mengungkapkan sendiri tabiat perusahaan asing di hadapan Komisi VII DPR RI, Selasa (1/12/2015).

Tabiat yang diungkap Sudirman yakni sudah biasanya perusahaan-perusahaan asingi dalam hal ini Freeport Indonesia, melakukan safari ke berbagai pimpinan partai, tokoh-tokoh berpengaruh, hingga lembaga besar negara.

“Kalau melihat pertemuan saya dengan pemimpin Freeport (Freeport Mcmoran-James Moffet) November 2014, ‘Pak Moffet dan seluruh pimpinan Freeport saya minta, saya tahu Anda sudah lama di sini dan network-nya banyak’,” ujar Sudirman menceritakan pertemuan dengan James Moffet.

Mantan Dirut Pindad itu meminta Freeport untuk tak lagi memandang Indonesia sebelah mata seperti 30-40 tahun silam.

Saat itu, tutur Sudirman, Indonesia memang kekurangan ahli-ahli tambang. Tetapi saat ini, ceritanya sudah berbeda, ucap dia.

Berdasarkan dokumen masa silam, kata Sudirman, perusahaan tambang terbesar di Indonesia itu selalu melakukan aksi berkeliling ke elit-elit politik nasional. Biasanya hal itu dilakukan sebelum kontrak tambangnya habis.

“Saya bilang, ‘saya tidak ingin anda (Freeport) berkeliling ke teman-teman politik untuk menekan saya. This is not going to work. Saya ingin kajian profesional. Jika bertemu siapapun seolah akan memengaruhi, ini suatu yang salah’. Mengapa saya sampaikan itu, kalau melihat dokumen itulah yang terjadi selama ini,” tutur Sudirman.

Safari politik Freeport itu kerap digunakan untuk menekan atau mempengaruhi pejabat. Parahnya, bak gayung bersambut, ada saja segelintir elit politik ikut-ikutan jadi pemburu rente, entah minta bagian saham atau proyek.
Menyadari tanggung jawab membersihkan para pemburu rente di sekitar tambang, Sudirman meminta Freeport membuat laporan berkala terkait setiap pertemuan apapun, dengan siapa pun, khususnya elit-elit politik.

Nah dalam perjalanannya, Sudirman mengaku sering mendapatkan update informasi setiap kali Freeport melakukan safarinya. Rupanya, selain bertemu pimpinan lembaga negara, Freeport juga kerap pimpinan partai-partai politik.

Setiap poin pembicaraan pertemuan itu disampaikan kepada Sudirman. Sayang, Menteri ESDM tak mengungkap siapa aja tokoh yang ditemui Freeport dalam rangka kegiatan “keliling” itu.

“Sampai di satu titik, pimpinan Freeport diminta bertemu Ketua DPR. Pak Maroef agak kebingungan, nah untuk membuat pertemuan lebih elegan, akhirnya mereka menulis surat, bertemu DPD, MPR, dan DPR sekaligus. Ini forum perkenalan pimpinan Freeport ke institusi politik,” kata Sudirman.

Khusus dengan DPR, pertemuan yang sejatinya untuk pimpinan DPR dan pimpinan Freeport, dikondisikan agar pertemuan itu hanya dihadiri segelintir orang saja yakni Ketua DPR RI Setya Novanto dan Direktur Utama Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin serta seorang pengusaha bernama Riza Chalid.