EQUITYWORLD FUTURES – Manusia masa kini banyak mengadopsi, mengadaptasi, dan terinspirasi oleh gagasan manusia masa lampau. Itu terungkap dalam obrolan Kompas.com bersama Pindi Setiawan, pakar gambar cadas dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pindi, yang mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual, mengatakan, komunikasi visual masa kini terinspirasi dari gambar cadas, seperti stensil tangan berusia 39.900 tahun yang baru saja ditemukan di Maros, Sulawesi. Desainer masa kini harus belajar dari nenek moyang tentang komunikasi visual yang efektif.

Berikut obrolan Kompas.com bersama Pindi pada Selasa (14/10/2014). Pindi ditemui Kompas.com di sela kegiatannya mengurus revitalisasi Kota Tua Jakarta.

Bagaimana masyarakat umumnya merespons temuan gambar-gambar cadas?

Kalau di daerah-daerah di negara lain, gambar cadas sudah jadi kebanggaan. Kalau di Australia, mereka sudah mulai memindahkan gambar-gambar cadas itu ke media lain, 20-30 tahun lagi, mungkin bakal berpindah ke media komputer. Tapi, kalau daerah baru kayak Indonesia, kita memang masih harus mulai menumbuhkan.
 
Sekarang kita masih sampai sebatas anggapan bahwa seni masa lalu mendukung moda ekonomi. Borobudur saja sampai sekarang masih harus kita usahakan, seperti Borobudur dibuat miniaturnya, tetapi asal-asalan. Ukuran tidak diperhatikan.

Harus ada agen-agennya yang membantu. Kemarin sempat ada dari ISI (Institut Seni Indonesia) masuk dan memberi pelatihan pada perajin (Borobudur). Baru mulai benar. Nah memang harus ada agen-agen seperti ini.

Selain perlu agen, adakah kendala lainnya?

Di Indonesia masalahnya orang-orang yang tinggal di tempat yang ada gambar cadas itu
tidak merasa itu miliknya.
 
Dari kacamata Anda sebagai orang yang berkecimpung dalam desain komunikasi visual, bagaimana gambar cadas ini menginspirasi desain?
 
Kalau saya menggunakan ilmu gambar cadas terkait sign age. Dalam komunikasi visual kita kenal sign system dan sign age. Kalau sign system, itu kan sangat visual. Kalau sign age, itu sangat raga-rasa.
 
Contoh, kita mau menunjukkan jalan untuk keluar, kita lalu beri tanda dengan tulisan “EXIT”. Itu sign system. Kalau sign age, untuk jalan keluar, tinggal diberi penerangan saja, orang akan tahu itu jalan keluar.
 
Sign age itu menggunakan stimulus indrawi. Kita ingin memamerkan lukisan. Bagaimana caranya agar orang melihat? Kita sejukkan saja tempat lukisan itu dipajang. Orang akan ke sana. Kalau kita mau ajak orang jalannya lebih cepat, jalannya bisa dimiringkan.
 
Jadi, dalam konteks sign age, bagaimana sebuah gambar ditempatkan. Ini sangat bermanfaat dalam konteks komunikasi visual pada orang yang belum mengenal tulisan. Aplikasinya banyak.
 
Misalnya?

Kita menaruh billboard. Bagaimana harus menyampaikan informasi di jalan tol. Billboard-nya jangan di depan, tapi di samping. Informasi harus bisa disampaikan dalam waktu 3 detik. Makanya, gambarnya harus jelas dan beda.
 
Contoh lain, bagaimana agar orang menghindari zona bahaya. Kita bisa tinggal redupkan saja. Lihat saja, kalau ada pohon beringin di depannya, orang cenderung tidak melewati itu, menganggap bahwa pohon beringin itu seram.
 
Nah di situ. Seperti kita bisa memahami cerita pada relief Candi Borobudur walaupun tidak ada teks-nya. Manfaatnya kita bisa membuat media komunikasi visual yang efektif. Ini yang sebenarnya jago kan manusia prasejarah.
 
Bagaimana Anda menilai komunikasi visual saat ini?

Keahlian saya sebenarnya adalah komunikasi visual pada masyarakat yang belum mengerti tulisan. Kegelisahan saya dari dulu, kok banyak ternyata logo-logo atau gambar yang tidak dimengerti orang.
 
Contohnya KB. saya pernah dapat cerita, di Bandung, ada ibu-ibu yang minta berhenti program KB. Alasannya karena ingin punya anak keempat. Dia mengaku belum punya anak cewek. Kan di gambar KB itu ada anak cowok dan cewek. Dia merasa harus punya (anak) cewek.
 
Lalu, di Afrika, yang pernah saya pelajari, terkait malaria. Di sana kan banyak malaria. Untuk beri tahu bahaya malaria, lalu ada poster dengan gambar nyamuk. tapi saat dipasang, orang berkomentar tidak ada nyamuk yang sebesar di gambar. Ini desainernya yang salah.
 
Saya juga pernah pelajari bagaimana komunitas nelayan mengalihkan informasi pada generasi muda walaupun tidak mengenal tulisan. Ternyata mereka bisa. Ini yang harus kita pelajari sekarang.
 
Gambar cadas juga bisa memberi pelajaran. Karena, kalau saya mengamati, kan tidak hanya berhenti pada gambar, tetapi juga pada bagaimana gambar itu ditempatkan pada panel di goa dan bagaimana goa dalam satu lanskap.

Usia gambar tangan di Maros terungkap lewat hasil kerja sama riset antara Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Makassar, Balai Peninggalan Cagar Budaya Makassar, Universitas Wollongong, serta Universitas Griffith di Australia sepanjang tahun 2011-2013.

Sejumlah arkeolog yang terlibat antara lain Max Aubert dari Universitas Griffth, Adam Brumm dari Universitas Wollongong, T Sutikna dan EW Saptomo dari Pusat Arkeologi Nasional, Budianto Hakim dari balai Arkeologi Makassar, dan Muhammad Ramli dari BPCB Makassar.

Kepada Kompas.com, Pindi juga menerangkan perkembangan dan persebaran gambar cadas di Indonesia, potensi wisata dan pengelolaannya, serta mengomentari apakah gambar cadas memang merupakan bukti bahwa Indonesia pusat peradaban dunia pada masa lampau.