EQUITYWORLD FUTURES – Guncangan gempa bumi pada 2006 lalu tidak hanya merobohkan bangunan perumahan, namun juga merusak Bangunan warisan Budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bangunan Cagar Budaya ini mengalami tingkat kerusakan yang bervariasi, mulai dari struktural dan kerusakan material.

“Gempa bumi 2006 lalu memang mengakibatkan rusaknya beberapa bangunan warisan budaya DIY,” ujar Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, Wahyu Astuti saat ditemui Kompas.com, Selasa (17/05/3016).

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, Bangunan Warisan Budaya di DIY yang rusak akibat guncangan gempa bumi 2006 yakni, Kawasan Kompleks Taman Sari dengan kerusakan terparah pada Pulo Panembung, Pulo Kenanga dan Gapuro Agung.

“Banyak dindingnya itu retak, lalu ada satu Gapuro yang sampai saat ini masih di beri penyangga karena belum di pugar. Alat berat tidak bisa masuk,” tegasnya.

Kawasan Kotagede juga mengalami kerusakan akibat gempa bumi 2006 lalu. Kerusakan terdapat pada rumah Abdi Dalem, Gapura, Tembok, Kompleks Masjid dan Makam Imogiri. Selain itu rumah-rumah tradisional juga mengalami kerusakan.

Kerusakan parah akibat gempa bumi 2006 dialami kompleks Makam Imogiri di Bantul. Kerusakan terdapat pada bagian-bagian bangunan baik bagian Surakarta dan Yogyakarta. Gapura- gapura, pagar, talud serta bangsal-bangsal banyak yang runtuh, dan retak.

“Nisan itu ada yang retak, miring, ada yang sampai ables ke dalam. Kompleks Makam Imogiri rusak parah waktu itu,” urainya.

Ia menceritakan, pada saat terjadi gempa, Abdi Dalem di Makam Imogiri Bantul mengatakan guncanganya seperti ada ular naga yang berjalan di bawah tanah. Bahkan, material bangunan yang runtuh terlihat seperti terlempar.

“Saya saat mengecek kesana (Makam Imogiri) itu materialnya seperti terlempar. Parahnya kerusakan itu karena lokasinya berdekatan dengan lokasi gempa dan wilayah sesar,” ucapnya.

Beberapa bangunan di kompleks Keraton Yogyakarta juga tak luput dari kerusakan, mulai dari retak dan roboh. Kerusakan antara lain terjadi pada, Regol, gapura, tembok benteng, dan bangunan. Benda-benda pusaka juga ada yang mengalami kerusakan.

“Bangsal Trajumas di dalam Keraton roboh akibat gempa bumi 2006 itu,” ucapnya.

Bangunan candi yang ada di wilayah DIY juga tak luput dari kerusakan. Candi yang mengalami kerusakan akibat gempa 2006 lalu antara lain, Candi Prambanan dan Candi Kalasan.

“Prambanan porak poranda, lalu Candi Kalasan itu juga mengalami kerusakan pada strukturnya. Kata ahli teknik sipil, kalau terjadi kembali sekali lagi waktu itu besar kemungkinan Candi Kalasan akan runtuh,” kata Wahyu.

Selain itu, lanjutnya bangunan warisan budaya seperti Tugu Yogya, tempat ibadah yang masuk dalam cagar budaya seperti Gereja kuno, klenteng serta rumah-rumah berarsitektur tradisional juga mengalami kerusakan.

Ia menyebut, pasca gempa pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan berbagai pihak untuk melakukan upaya pemugaran bangunan warisan budaya yang rusak akibat gempa. Pemugaran dimulai dengan melakukan studi melibatkan berbagai lintas ilmu.

“Pemugaran sudah dilakukan , Makam Imogiri itu selesai 2007, Bangsal Trajumas selesai 2009, Candi Siwa di Prambanan 2014 lalu. Sekarang kita tinggal jalan pemugaran di Warung Boto,” pungkasnya.