Gencatan senjata panjang akhirnya disepakati oleh penguasa Jalur Gaza, Hamas, dan pemerintah Israel. Kedua pihak setuju mengakhiri perang terjadi hampir dua bulan yang menewaskan sekitar 2.139 warga sipil Gaza, 490 di antaranya anak-anak, serta 64 militer Negeri Zionis, dan enam warga sipil mereka.

Perang, seperti biasa, tidak ada pemenang jelas yang muncul. Meski gencatan senjata disambut suka cita warga Gaza, namun mereka harus menerima kepahitan nyata. Kota mereka babak belur dan rata dengan tanah. Walau begitu eluk-elukan pada Hamas tak berkurang. Penduduk tumpah ke jalan dengan perasaan gembira.

Beda Gaza, beda pula penerimaan gencatan senjata oleh pihak Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi bulan-bulanan di negaranya sendiri. Dia dikecam lantaran menyetujui ‘perdamaian’ sementara dengan Hamas, seperti dilansir kantor berita Reuters (27/8).

Sirene serangan roket dari Gaza sudah bungkam. Namun parlemen Israel malah meraung. Begitu pula media dan sebagian besar warga Negeri Bintang Daud itu. Mereka diliputi kekecewaan mendalam atas kepemimpinan Netanyahu, terutama dalam penanganan pertarungan sengit tujuh pekan belakangan.

“Setelah 50 hari perang di mana teroris Hamas menewaskan puluhan tentara juga warga sipil, menghancurkan rutinitas sehari-hari, dan menempatkan negara ini dalam keadaan ekonomi sulit, kami mengharapkan lebih dari gencatan senjata,” ujar Shimon Shiffer, seorang pengamat Israel menuliskan pendapatnya di harian Yedioth Ahronoth, koran paling laris di Negeri Zionis itu.

Shiffer juga menyerukan agar warga Israel sama-sama pergi ke kediaman Presiden Shimon Peres dan mendesaknya agar Netanyahu mengundurkan diri dari jabatan dia.

Kabinet Netanyahu pun tak kalah kesal dengan keputusan gencatan senjata ini. Parlemen sayap kanan yang menyetujui tindakan militer untuk membungkam Hamas menggelar jumpa pers hari ini demi mengecam gencatan senjata yang ditengarai oleh Mesir, berlaku sejak kemarin.

Perjanjian itu berbunyi penghentian permusuhan untuk sementara, pembukaan blokade di Gaza, dan pelebaran zona laut di wilayah Mediterania. Untuk mengawal perjanjian ini Hamas mengungkapkan keinginan mereka bersatu dengan pasukan keamanan Tepi Barat yang dipimpin oleh Presiden Mahmud Abbas dan menguatkan koalisi pemerintahan yang telah dibentuk Juni lalu.

Meski demikian Mesir dan Israel menegaskan tidak akan ada senjata masuk ke Gaza yang berpenduduk 1,8 juta jiwa itu. Tahap kedua gencatan senjata itu akan dimulai sebulan kemudian. Kedua pihak berselisih bakal membicarakan pembangunan pelabuhan di Gaza dan pelepasan tahanan Israel dari Hamas, termasuk dua tentara Israel yang belum diketahui keberadaannya sudah di bawah kendali Hamas, namun sempat dinyatakan tewas oleh pihak Netanyahu.

Belum jelas apakah Israel juga bisa mendapatkan tujuan mereka yakni melucuti senjata Hamas. Dukungan dari Amerika Serikat dan Uni Eropa atas ide itu sangat tinggi mesi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Pihak Hamas menegaskan mereka menolak usul tersebut dan mengatakan itu mustahil.

Betapa pun sulitnya mencapai gencatan senjata, seharusnya damai diterima dengan senang. Seperti ucapan pegiat perempuan anti-Islam, untuk gencatan ini Netanyahu berhak dapat Nobel Perdamaian.