EQUITYWORLD FUTURES – “Saya tidak tahu apa yang terjadi pak Jay, yang jelas anak-anak sekarang gampang sekali mutungan. Saya tegur sedikit saja sudah lunglai dan maunya resign saja, padahal dulu saya dimaki atasan saya biasa saja, karena itu saya anggap sebagai bagian dari pengembangan.

Betul yang Pak Jay bilang tadi, generasi sekarang maunya sukses secara instan, padahal saya ada pada posisi ini memerlukan waktu dan proses yang tidak sebentar. Tapi anak buah saya maunya cepat dipromosikan menjadi Manajer, ini yang membuat saya gusar!”

“Saya sungguh tidak mengerti tren apa ini pak? Saya melihat fakta bahwa Turn Over khususnya mereka yang lahir pada tahun 80-an keatas sangat tinggi sekali, padahal di perusahaan saya gaji dan benefit yang kami berikan sangat bersaing!”

Tiga  fakta di atas adalah isu utama yang saat ini mulai menjadi tantangan di dunia kerja. Kaitannya dengan kepemimpinan dan adanya “Generation Gap” atau Jarak Generasi yang begitu lebar di dalam suatu korporasi.

Kita ketahui, saat ini ada tiga generasi yang bercokol di dalam suatu perusahaan. Generasi pertama adalah mereka yang disebut sebagai Generasi X, yaitu beliau yang lahir pada tahun 50-an hingga 60-an. Sudah pasti, generasi ini sekarang menempati posisi strategis Top Management.

Generasi berikutnya adalah mereka yang lahir di era 70-an hingga 80-an, Generasi disebut sebagai Generasi Y. Berdasarkan kajian empiris, saat ini generasi tersebut ada pada posisi Midle Management dan beberapa di Top Management.

Nah ini dia generasi yang sedang hot menjadi bahan kajian bersama sebagaimana tiga kisah nyata di atas, adalah mereka yang lahir pada era 80-an keatas hingga tahun 2000-an.

Beberapa referensi menyebut sebagai Generasi Z atau disebut juga sebagai Generasi Milenia.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan 3 generasi tersebut didalam sebuah perusahaan? Dan apakah ini adalah ancaman atau peluang?

Saat ini yang terjadi adalah adanya jarak pada ketiga generasi tersebut sering menyebabkan konflik, friksi hingga perpecahan di dalam sebuah tim. Secara ilmiah, hal ini disebabkan tiga jenis generasi tersebut memiliki mindset dan mental set yang jauh berbeda.

Dan perbedaan tersebut mempengaruhi cara mereka merespon atau bersikap yang ditunjukkan dengan perilaku khas dalam menghadapi aneka tantangan. Termasuk dalam hal ini perbedaan dalam menjalankan fungsi Kepemimpinan.

Bagaimanapun, generasi milenia atau Generasi Z yang populasinya semakin meningkat, adalah para “singa” yang memiliki bakat serta potensi yang luar biasa dahsyat. Dan yang jelas, suatu saat mereka akan memegang tampuk estafet kepemimpinan.

Sayangnya, yang terjadi adalah, sebagian besar Generasi X dan Y memandang dengan ragu, bahwa para “singa” ini mulai tampak mengembik sebagaimana seekor kambing, meskpiun mereka lulusan universitas terkemuka dan lulus dengan nilai IPK tinggi.

Dan yang lebih parah lagi, berdasarkan pengalaman empiris penulis, sejujurnya suka tidak suka, senang tidak senang, justru cara atau gaya kepemimpinan Generasi X dan Y lah yang membuat para “singa” itu mulai mengembik.

Dikutip dari buku “Lead Or Leave It!” kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Generasi Y dalam memimpin Generasi Z adalah mereka terlalu asyik memimpin Generasi Milenia dengan cara sebagaimana mereka dipimpin oleh Generasi X dulu. Yaitu dengan selalu memberikan arahan atau perintah atau giving direction.

Memberikan arahan kepada anggota tim sebagai bagian dari proses pengembangan dibenarkan, jika keamanan terancam akibat karyawan masih belum paham terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Sehingga, jika tidak diberikan arahan akan menyebabkan kesalahan yang fatal.

Tapi tunggu dulu, giving direction tidak 100 persen ideal. Giving direction memiliki beberapa kelemahan yang membuat para Singa itu mengembik, yaitu:

Pertama, mereka menjadi sangat tergantung kepada pimpinan, dengan kata lain anggota tim akan sangat manja, dan terus mengandalkan pimpinannya untuk menyelesaikan segala tantangan.

Kedua, menurunkan motivasi dan semangat untuk berkinerja lebih baik lagi, disebabkan mereka tidak diberikan kesempatan untuk berperan menunjukkan kemampuannya.

Ketiga, pimpinan akan kehilangan peluang dan kesempatan emas untuk mendidik dan mengembangkan anak buahnya menjadi lebih mandiri untuk tugas-tugas yang memang menjadi tanggung jawab mereka.

Keempat, menurunkan komitmen atau motivasi Generasi Z melaksanakan tugas, karena merasa disuruh saja tanpa dilibatkan.

Kelima, pemimpin kesulitan mengenali dan menemukan bakat atau talenta yang dimiliki anggota timnya.

Disebabkan bukti-bukti di atas, maka salah satu cara mencegah agar para Singa Milenia itu tidak mulai mengembik lagi, jangan terlalu sering menggunakan pendekatan ”jadul” yang hanya cocok untuk masa lalu, yaitu terlena memimpin dengan memberikan perintah atau giving direction, tanpa pernah melibatkan para Singa itu.

Jadi Jarak Generasi yang saat ini terjadi adalah sebuah peluang, yang jika kita gagal mengelolanya akan menjadi ancaman.