70 tahun setelah Perang Dunia (PD) II dan 26 tahun selepas jatuhnya Tembok Berlin, Jerman masih dipenuhi banyak bunker.

Dibangun selama Reich Ketiga dan era Perang Dingin, Jerman membuktikan bahwa bunker milik mereka sulit dihancurkan atau terlalu sulit dihancurkan tanpa membuat bangunan lain di sekitarnya dalam bahaya.

Pada 2007, Pemerintah Jerman memutuskan menjual sekitar 2.000 bunker dan mendorong para investor dan arsitek membangunnya kembali untuk penggunaan yang lebih baru lagi.

Berikut ini beberapa bunker yang didesain ulang menjadi bangunan adaptif dan menarik saat ini, termasuk Vivos, “bunker perlindungan kiamat”.

1. Wohnen im Bunker, Cologne

Bunker di atas tanah yang dibangun selama PD II ini kini telah diubah menjadi sebuah kompleks perumahan oleh Luczak Arcitekten. Rumah-rumah di sana memiliki kaca besar dan teras, serta denah fleksibel, atrium internal, dan taman.

2. Cultural Cargo Dock, Frankfurt

Cultural Cargo Dock, Frankfurt


Bunker ini tidak dihancurkan karena membutuhkan biaya mahal untuk itu. Maka dari itu, Index Arcitekten membangun sebuah bangunan besar berbahan kayu di atas bunker PD II tersebut.

Bangunan itu kini menjadi studio seniman dan Institut New Media.

3. Sammlung Boros, Berlin

Sammlung Boros, Berlin


Firma arsitektur Jerman, Realarchitektur mengubah bunker ini menjadi galeri seni koleksi pribadi konglomerat periklanan, Christian Boros.

Bunker ini dibangun untuk dapat memuat 3.000 orang, sekarang Sammlung Boros menjadi tempat pameran seluas 3.000 meter persegi ditambah dengan penambahan 500 meter persegi di bagian atap untuk dijadikan tempat Boros dan keluarganya tinggal.

4. Residential Housing, Bremen

Residential Housing, Bremen


Rainer Mielke berhasil mengubah bunker perlindungan dari serangan udara ini menjadi tempat tinggal bagi dirinya sendiri.

Dia berhasil mengubahnya menjadi satu kesatuan antara ruang kerja dan tempat tinggal yang berbeda jauh satu sama lainnya.

Satu blok flat, misalnya, menyatu rapi dengan tempat tinggal di dekatnya sementara yang lain mempertahankan bentu baku bunker berupa estetika beton.

5. Übel & Gefährlich (Evil & Dangerous), Hamburg

Übel & Gefährlich (Evil & Dangerous), Hamburg


Menara enam lantai anti peluru ini menjulang di distrik St. Pauli, Hamburg.

Bunker ini berhasil diubah menjadi kompleks kreatif yang mencakup sebuah stasiun radio, dan studio musik sebuah klub musik elektronik terkenal asal Hamburg.

Kini sang arsitek sedang merencanakan pembangunan sebuah taman di atas bunker tersebut.

6. Energy Bunker, Hamburg

Energy Bunker, Hamburg


Saat ini bunker berupa menara anti peluru ini telah menjadi tempat pembangkit energi terbarukan.

Setelah mampu melindungi sekitar 30.000 orang, bunker itu sekarang berisi sistem pemanas dan panas matahari yang memasok sekitar 3.000 rumah tangga di seluruh wilayah Wilhelmsburg.
Sebuah kafe di atap menawarkan interior sesuai industri dan panorama.

7. Bunker Valentin, Bremen

Bunker Valentin, Bremen


Terletak sekitar 40 kilometer dari pantai Laut Utara, struktur yang dibangun pada PD II ini dibangun untuk pabrik perakitan kapal selam.

Meskipun sekitar 2.000 pekerja paksa kehilangan nyawa mereka di sini, tidak satu pun kapal selam berhasil diproduksi.

Tidak berfungsi selama beberapa dekade, Bunker Valentin berubah menjadi monumen peringatan untuk kengerian dan keangkuhan fasisme pada 2011.

8. Vivos Europa One, Rothenstein

Vivos Europa One, Rothenstein


Bunker buatan Soviet seluas 30,7 hektar ini merupakan salah satu proyek repurposing terbesar di Jerman.

Bunker ini diyakini mampu menahan ledakan nuklir, kecelakaan pesawat langsung atau serangan biologis dan kini diubah menjadi 34 apartemen bintang lima seluas 2.500 meter persegi.

Vivos Europa One bertujuan melindungi orang-orang super kaya dari kiamat yang akan datang.

Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara, menyiapkan sejumlah acara untuk menyambut gerhana matahari total (GMT) yang melintasi kota itu pada 9 Maret mendatang.

Acara memperingati ulang tahun Sultan Ternate, yakni Festival Legu Gam, yang sedianya digelar pada April dimajukan pada awal Maret. Momentum itu dijadikan kesempatan untuk mempromosikan Kota Ternate.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah Pemkot Ternate Sutopo Abdullah ketika dihubungi, Rabu (3/2/2016), menuturkan, Pemkot Ternate akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait GMT.

Kota Ternate merupakan satu dari 45 kota/kabupaten pada 12 provinsi di Indonesia yang merupakan jalur lintasan GMT. Durasi totalitas gerhana di Ternate diperkirakan 2 menit 36,3 detik.

BARRY KUSUMA Kesenian Kota Ternate

Di Indonesia, wilayah dengan durasi totalitas terlama adalah Maba, Kabupaten Halmahera Timur, yang berada di Provinsi Maluku Utara. Lama gerhana total di Maba adalah 3 menit 19,5 detik.

Sutopo memperkirakan, ribuan orang baik wisatawan maupun peneliti akan datang ke Maluku Utara untuk menyaksikan GMT.

”Semua hotel dan penginapan sudah kami imbau agar siap memberikan layanan terbaik,” katanya.

Kunjungan ribuan orang ke Ternate itu menjadi ajang promosi wisata dan budaya setempat.

Selain Festival Legu Gam, ada juga festival budaya lain yang digelar Kesultanan Ternate. Lokasi wisata juga akan dibenahi. ”Kami akan tunjukkan yang terbaik untuk menarik wisatawan datang kembali ke Ternate,” ujarnya.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Wisatawan mancanegara mengunjungi Benteng Tolucco di Ternate, Maluku Utara, Selasa (15/4/2014). Benteng yang dibangun oleh Francisco Serao pada 1540 ini juga sering disebut Benteng Holandia atau Santo Lucas.

Dihubungi terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Stasiun Geofisika Ternate Suwardi menyatakan, ada sembilan lokasi pengamatan GMT di Ternate.

Di antaranya Batu Angus, Benteng Toloko, Bandara Sultan Babullah, dan Pantai Falajawa. Sejauh ini yang ia ketahui, para peneliti dari Perancis dan Korea akan datang ke Ternate.