EQUITYWORLD FUTURES – Maskapai penerbangan Jerman Lufthansa menyatakan jatuhnya harga minyak dan melonjaknya bisnis penerbangan penumpang berdampak pada melesatnya laba di tahun 2015.

Padahal, industri penerbangan Jerman di tahun 2015 diwarnai kedelakaan pesawat Germanwings dan protes yang dilakukan pilot dan kru.

Menurut CEO Lufthansa Carsten Spohr, tahun 2015 merupakan tahun yang menantang secara emosional. Hal ini terkait dengan kecelakaan pesawat penumpang Germanwings, maskapai penerbangan murah milik Lufthansa, pada Maret 2015 lalu, yang menewaskan 150 orang.

“Tahun 2015 adalah tahun yang amat sangat menyedihkan. Tahun itu adalah tahun yang ekstrim. Secara emosional, tahun itu adalah tahun yang terberat sepanjang sejarah perusahaan. Namun, pada saat bersamaan, tahun 2015 adalah tahun terbaik sepanjang sejarah finansial Lufthansa,” ujar Spohr.

Laba bersih Lufthansa melesat menjadi 1,7 miliar euro atau 1,9 miliar dollar AS pada tahun 2015, dibandingkan hanya 55 juta euro atau 62 juta dollar AS pada tahun 2014 silam.

Laba operasional tumbuh 55,2 persen menjadi 1,8 miliar euro atau 2 miliar dollar AS. Adapun pendapatan tumbuh 6,8 persen menjadi 32,1 miliar dollar AS atau 36,3 miliar dollar AS.

“Bertambahnya jumlah penumpang hingga dua kali lipat tidak hanya disebabkan biaya bahan bakar yang semakin rendah, namun juga perkembangan volume penumpang kami dan disiplin kapasitas kami,” ungkap Spohr.

Selain maskapai Lufthansa sendiri, grup maskapai ini juga memiliki Swiss Airlines dan Austrian Airlines.

Untuk bisnis penerbangan murah, Lufthansa memiliki maskapai penerbangan murah (LCC) seperti Eurowings dan Germanwings.

Laba underlying dalam bisnis penerbangan penumpang meningkat hampir dua kali lipat menjadi 1,5 miliar euro atau 1,7 miliar dollar AS pada 2015 dibandingkan 701 juta euro atau 794 juta dollar AS pada tahun sebelumnya.

Adapun Eurowings dan Germanwings untuk pertama kalinya meraup laba di tahun 2015 lalu.