EQUITYWORLD FUTURES – Pada perdagangan Senin (4/4/2016) atau Selasa dini hari WIB, harga minyak turun 2 persen, dengan Brent menyentuh level terendah dalam sebulan.

Penurunan harga minyak disebabkan investor mulai meragukan langkah produsen minyak menahan produksinya untuk menekan peredaran persediaan minyak global.

Perdagangan berjangka US crude hanya dibantu oleh tidak berfungsinya pipeline untuk mendistribusikan minyak ke hub penyimpanan. Para trader khawatir pasokan minyak US Crude akan mencapai angka tertinggi dalam delapan minggu.

Harga minyak tetap naik sekitar 40 persen dibanding harga paling lemah dalam 12 tahun terakhir di pertengahan februari, walaupun reli kenaikan semakin skeptis akibat keraguan penahanan produksi.

“Terlihat bahwa penantian spekulatif mengenai pertemuan penahanan produksi sudah mendekati akhir,” kata Jim Ritterbusch, konsultan di Ritterbusch & Associates.

Brent turun 98 sen atau 2,5 persen di level 37,69 dollar AS per barel, menyentuh harga terendah di 4 Maret yakni di level 37,60 dollar AS per barel. Nilai tersebut turun 11 persen dari harga tertinggi di 2016 di level 42,54 dollar AS per barel pada 18 Maret.

US Crude turun 3 persen di level 35,70 dollar AS per barel, setelah rebound akibat berita tidak berfungsinya pipa Keystone yang menghubungkan minyak ke Cushing, Oklahoma.

US Crude turun 15 persen dari puncak 2016 di 41,90 dollar AS per barel pada 22 Maret lalu.

OPEC dan negara produsen minyak utama sebelumnya berencana untuk hadir dalam pertemuan di Qatar dalam dua minggu mendatang untuk mendiskusikan rencana penahanan produksi minyak.

Namun, prospek kesepakatan seakan redup setelah Arab Saudi mengatakan tidak akan berpartisipasi jika Iran tidak melakukan hal serupa, sementara Rusia melaporkan produksi tertinggi dalam 30 tahun hanya beberapa minggu sebelum pertemuan.