EQUITYWORLD FUTURES – Petani rumput laut di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara memilih menjual cepat hasil panen mereka meskipun kadar kekeringan di bawah standar. Hal dilakukan karena anjloknya harga rumput laut kering di pasaran.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Nunukan Dian Kusumanto mengatakan, satu-satunya negara yang masih menerima hasil panen rumput laut petani dari Indonesia adalah China.

”Thailand sudah tutup gudang, hanya negara China yang masih mau membeli tapi harganya 0,75 dollar AS,” ujarnya, Senin (25/4/2016).

Anjloknya harga rumput laut dunia membuat harga rumput laut kering di pasaran lokal turut jatuh. Rumput laut kering hasil penen petani di Kabupaten Nunukan hanya dihargai Rp 4.800.

Menurut Dian, pedagang berani membeli dengan harga Rp 6.000 asal kadar kekeringan rumput laut petani mencapai 35-36.

“Kalau harus kering 35-36 mungkin butuh waktu seminggu, tetapi kalau tingkat kekeringan 37-38 beberapa hari saja,” ungkapnya.

Dengan menjual cepat hasil rumput laut, petani menghemat biaya pengeringan dan sewa lahan pengeringan Rp 1.000 per kilo rumput laut kering.

Dengan memangkas waktu pengeringan, meskipun kualitas rumput laut di bawah standar, petani bisa menghemat pengeluaran.

”Kita lihat ini cash flow di tingkat petani dengan harga paling rendah ini,” ucap Dian.

Selain itu, alasan para petani memilih cepat menjual hasil panen adalah karena mereka dituntut segera mengembalikan modal yang mereka pinjam kepada pihak ketiga.

Pemerintah daerah mengupayakan sistem pergudangan. Namun, minimnya SDM serta kurangnya ketersediaan gudang membuat langkah pemerintah daerah belum efektif mengangkat harga rumput laut petani.

Gudang di Kabupaten Nunukan hanya mampu menampung 1.000 ton.

”Harusnya kapasitas gudang itu mampu menampung 6 bulan stok, berarti kemampuan 10.000 ton. SDM untuk menangani system pergudangan kita juga masih kurang,” kata Dian.