EQUITYWORLD FUTURES – Nama AM Hendropriyono sempat timbul tenggelam setelah tak menjabat kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Tapi setahun terakhir, namanya kembali meramaikan pemberitaan di Tanah Air.

Bukan karena perkembangan terbaru kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, yang saat itu terjadi dia masih menjabat kepala BIN. Tapi karena keakrabannya dengan PDIP, dan tentunya Presiden Repubik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

Kedekatan Hendro dan PDIP sebenarnya bukan cerita baru. Saat Indonesia dipimpin Megawati yang juga ketum PDIP, Hendro mendapat posisi strategis sebagai kepala BIN.

Hubungan baik ini rupanya belum terputus hingga massa-massa Pilpres 2014 kemarin. PDIP yang mengusung Jokowi-JK, mendaulat Hendro sebagai penasihat intelijen Tim Transisi pasca Jokowi-JK diumumkan sebagai pemenang dan mulai sibuk menyusun kabinet. Sejak masa-masa Pilpres itulah, Jokowi dan Hendropriyono terlihat semakin akrab. Beberapa kali mereka bertemu.

Banyak yang mencibir kedekatan itu sebagai balas budi Jokowi pada Hendro. Jokowi disebut menjanjikan sebuah jabatan untuk bekas kelapa BIN itu.

Dugaan itu mengalir begitu cepat di masyarakat. Tapi Hendro dengan tegas membantah kedekatannya karena mengincar posisi tertentu di ring 1 Kepresidenan, termasuk kembali menduduki kursi kepala BIN. Meskipun, diketahui mantu dan anak Hendro telah mendapatkan posisi strategis di sekitaran Presiden Jokowi.

Ini klaim Hendropriyono soal kedekatannya dengan Jokowi bukan untuk ‘sesuatu’ seperti dihimpun merdeka.com, Selasa (6/1):

1. Ketemu Jokowi 2 jam, ngaku cuma curhat soal kesehatan

Senin kemarin, mantan Kepala BIN AM Hendropriyono menemui Presiden Jokowi di Istana Negara. Pertemuan berlangsung selama 2 jam.

Usai pertemuan, Hendropriyono mengaku melaporkan kondisi kesehatannya. “Waktu itu kan saya menghadap dalam keadaan sakit sekarang saya laporan bahwa saya sudah sembuh. Kekuatan sudah 55 dan siap untuk fight lagi,” ujarnya di Istana Negara, Jakarta.

Hendro tidak menjelaskan detail isi pertemuan dan maksud kata fight. Apakah ditawari jabatan oleh Jokowi?

“Untuk apa saja, tapi walaupun saya di luar sebagai swasta tapi saya tidak ditawar-tawar tetap akan mendukung beliau dan pemerintahannya supaya sukses,” ujarnya.

Hendro mengaku mendapatkan dari Jokowi untuk selalu menjaga kesehatan. “Enggak permintaan (khusus) cuman nasihat dari Pak Presiden supaya jaga kesehatan karena saya bilang umur saya sudah 70 tahun jadi ya sakit-sakit kan biasa, namanya orang umur 70 sekarang sakit-sakit kan biasa. Dulu gak begini kan, jadi suruh jaga kesehatan itu saja,” ujarnya.

2. Dekat dengan Jokowi, Hendro tolak jabatan BIN

Meski dekat dengan Jokowi, Hendro mengaku tidak mendapat tawaran posisi atau tugas khusus dari Presiden Jokowi. Hendro berkilah, daripada dirinya yang dipilih untuk menjabat posisi tertentu, lebih baik Jokowi menunjuk kaum muda.

“Banyak sekarang ini kaum muda yang potensial dan lebih bagus daripada saya. Jadi sudah waktunya orang-orang muda ini ikut dalam barisannya Pak Jokowi, Pak Presiden supaya sukses memimpin negeri kita. Begitu, jangan pakai saya yang tua,” ujarnya di Kantor Presiden.

Namun, saat ditegaskan lagi jika Presiden Jokowi menawarkan jabatan atau tugas khusus kepadanya apakah akan diterimanya?

“Gak ada yang menolak memang ada yang nawarin? Gak ada, saya mau menjawab pertanyaan kalian kan siap gak ditawari jabatan, ya saya jawab kan gak lucu orang itu kalau umur 30 tahun yang bagus, apa gak malu (saya)?” ujarnya.

3. Hendro pastikan tak titip calon kepala BIN

Tak cuma menolak jabatan strategis, Abdullah Makhmud Hendropriyono menegaskan tak merekomendasikan siapapun untuk kepala BIN. Menurutnya, itu hak Jokowi sebagai Presiden.

“Rekomendasi enggak lah, kalau ditanya saya jawab, tapi kalau merekomendasi orang per orang saya tidak,” tegasnya.

Bekas Pangdam Jaya juga memberi sinyal akan segera ada pergantian di lembaga telik sandi dalam waktu dekat. “Akan segera diputuskan (pergantian kepala BIN) oleh beliau” tambahnya.

4. Tak mau jilat ludah sendiri, Hendro klaim tak urusi calon kepala BIN baru

AM Hendropriyono mengaku tidak turut campur soal calon Kepala BIN baru. Menurutnya, pertemuan selama kurang lebih dua jam dengan Presiden Joko Widodo tidak membicarakan hal tersebut.

“Rekomendasi enggak lah,” ujarnya di Istana Negara.

Mantan Kepala BIN itu mengungkapkan alasannya tidak mau turut campur karena tidak ingin menjilat ludah sendiri. Dulu Hendro pernah mengatakan dirinya sudah keluar dari politik.

“Kan saya sudah pernah bilang dulu ingat enggak? Saya sudah pernah bilang di publik, di kalian bahwa saya sudah mengundurkan diri dari politik, ya sudah dong masa menjilat ludah kembali,” tegasnya.