Maskapai penerbangan dunia diperkirakan membutuhkan tambahan sebanyak 980.799 penerbang dan 1.164.969 teknisi pesawat hingga 2030. Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak itu akan dibahas dalam Indonesia Civil Aviation Training Seminar (ICATS) di Jakarta, 13-14 Agustus 2014.

Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Perhubungan Santoso Eddy Wibowo mengatakan seminar internasional terkait pengembangan SDM penerbangan tersebut baru pertama kali diselenggarakan. Kegiatan tersebut akan dihadiri oleh pakar-pakar penerbangan mancanegara.

“Mereka akan menyampaikan perihal industri penerbangan dari masing-masing negara,” jelas dia saat jumpa pers ICATS 2014, di Jakarta, Rabu (13/8). “Tujuan untuk bersama-bersama pakar penerbangan membahas industri perkembangan Indonesia dimana kebutuhan SDM jadi pilar, kapasitas diklat dan pelatihan penerbangan juga,” lanjutnya.

Santoso mengungkapkan bahwa sistem pendidikan SDM penerbangan yang dijalankan pihaknya telah mendapat pengakuan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Itu dibuktikan dengan keberhasilan Badan Pengembangan SDM Kemenhub menjadi bagian dari ICAO Trainair Plus Full Member.

“Acara seminar ICAO diharapkan juga bisa diadakan tiap tahun, supaya penerbangan Indonesia bisa dikenal dunia,” katanya.

Dia mengutarakan bahwa pihaknya telah mendirikan sekolah penerbangan di Banyuwangi bernama Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang (LP3). Selain itu, ada juga Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Makassar.

“Pada tingkat nasional kebutuhan di dalam negeri akan penerbang baru per tahunnya mencapai 600 orang dan teknisi perawatan pesawat udara mencapai 800 orang per tahun.”